BANGGAI, OKENESIA.COM- Program integrasi farming yang dikembangkan Kelompok Black Soldier Fly (BSF) Gen Toili di Desa Sentral Timur, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, menjadi contoh nyata pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular.
Kelompok pionir budidaya maggot ini dibina dan didampingi manajemen PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF).
Kegiatan tersebut turut menjadi agenda visit media kerja sama perusahaan dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banggai, Minggu (15/2/2026).
Salah satu pencetus budidaya maggot, Syamsul, mengisahkan awal terbentuknya kelompok tersebut.
Ia menyebut, komunitas itu bermula dari obrolan santai antar peternak yang resah dengan mahalnya harga pakan pabrikan.
“Kami awalnya hanya kongko-kongko. Kenapa pakan mahal sekali? Sementara kebanyakan anggota ini peternak,” ujarnya.
Pada awal 2022, sebanyak 12 orang sepakat mendirikan kelompok budidaya maggot. Setahun berselang, pada 2023, mereka bertemu dengan manajemen Pertamina EP DMF dan mendapatkan dukungan bantuan fisik untuk pengembangan usaha.
“Alhamdulillah dapat bantuan fisik dari Pertamina. Tapi prinsipnya, setelah tiga tahun berjalan kami tetap mandiri, tidak hanya meminta saja,” jelas Syamsul.
Dari 12 anggota awal, kini dua orang tidak lagi aktif karena kesibukan masing-masing. Meski begitu, semangat kelompok tetap terjaga. Bahkan, salah satu anggota telah mampu mengembangkan usaha secara mandiri di luar kelompok.
Program ini tidak hanya berfokus pada budidaya maggot, tetapi juga mengusung konsep integrasi farming.
Limbah organik dan sisa makanan masyarakat dimanfaatkan sebagai pakan larva lalat tentara hitam (BSF), yang kemudian diolah menjadi sumber protein alternatif untuk ternak seperti ayam dan ikan.
“Sekarang masyarakat sudah menyetor sendiri limbah organik ke kami. Itu bisa dimanfaatkan untuk maggot,” ungkapnya.
Secara ekonomi, manfaatnya cukup signifikan. Untuk 100 ekor ayam misalnya, pembelian pakan pabrikan bisa mencapai Rp2 juta. Dengan pemanfaatan maggot sebagai campuran konsentrat, biaya pakan dapat ditekan hingga 50 persen.
“Minimal kami tidak lagi sepenuhnya bergantung beli pakan di toko. Secara ekonomi, kami sudah merasakan manfaatnya,” tambah Syamsul.
Selain dampak ekonomi, kelompok BSF Gen Toili juga aktif memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dan pelajar.
Mereka membuka ruang pelatihan bagi siswa sekolah untuk mengenal cara mengelola sampah organik menjadi produk bernilai ekonomis.
“Harapan kami, bisa memberi edukasi bagaimana mengelola sampah agar bernilai ekonomis. Minimal peran kita di lingkungan memberi manfaat terhadap masalah sampah,” ungkapnya.
Melalui pendampingan Pertamina EP DMF, program ini diharapkan terus berkembang dan mampu direplikasi di desa-desa lain sebagai solusi penguatan ekonomi sekaligus pengurangan sampah berbasis masyarakat.
Di kawasan lokasi budidaya maggot, terdapat tanaman hortikultura tumbuh subur. Ada budidaya ikan nila, ikan lele, ikan emas serta ikan koi. Sumber pakannya adalah maggot ditambah dengan konsentrat.
Turunan dari budidaya maggot itu dapat dijual. Seperti hasil panen sayuran, ikan dan lainnya. (top)