Merawat Naluri Bahagia, Jejak Program PPM Pertamina DMF Melambungkan Asa
‘Fabi ai aala irabbikuma tukadzibann’, lantunan berulang ayat Alquran, Surah Arrahman terdengar syahdu dari gawai salah satu anggota kelompok ternak seolah memberi isyarat rasa syukur atas nikmat yang diberikan Sang Maha Pemilik Kekayaann. Gawai yang sudah mulai mengelupas kaca pengamannya itu tersimpan di sudut meja berukuran semeter lebih. Di atas meja itu, tiga cangkir kopi dengan asap masih mengepul. Tiga pria usia setengah abad sedang bercengkerama. “Aiya mae, suhang (di sini, duduk),” ucap salah satu dari mereka berbahasa Saluan memersilakan Okenesia.com ketika bersua di tempat mereka.
(Tulisan ini diikutsertakan di lomba karya tulis Apresiasi Jurnalis Pertamina/AJP 2026)
OLEH: SUTOPO ENTEDING
Arah jarum jam menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit, Kamis (29/10/2026). Senja sudah menyapa, matahari perlahan mulai tenggelam, bertanda malam akan tiba. Tiga pria masih menikmati kopi hangat usai tuntas membersihkan kandang ternak ayam petelur sekaligus mengumpulkan ratusan telur.
Ketiga pria itu merupakan anggota kelompok ternak yang diberi nama Kelompok Usaha Bersama Ayam Lestari. Di Desa Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, kelompok ternak ayam petelur ini menjadi salah satu penerima manfaat program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Pertamina EP Donggi Matintok Field (PT Pertamina DMF).
Kelompok ternak ini memiliki 6 anggota. Mereka membuat jadwal bergilir. Di pekan pertama misalnya, tiga anggota kelompok dijadwalkan membersihkan kandang dari kotoran ayam sekaligus memanen telur. Pekan berikutnya, tiga anggota lainnya mendapatkan kesempatan dan tugas yang serupa. Begitu seterusnya.
Manajemen PT Pertamina EP DMF memulai program ini tahun 2025. Prosesnya cukup panjang dan berjenjang. Dimulai dari pembentukan kelompok, pembinaan segala bentuk yang berkaitan dengan pengembangbiakan ternak hingga pendampingan.
Bukan itu saja, perusahaan plat merah ini seolah ‘memanjakan’ kelompok ternak binaannya. Penyediaan bahan baku kandang hingga pendanaan ditalangi manajemen. Komitmen tersebut sebagai upaya agar penerima manfaat benar-benar merasakan dampak baiknya.
Bantuan yang diberikan Pertamina EP Donggi Matindok tidak hanya berupa ayam, tetapi satu paket dengan pembangunan kandang berukuran sekitar 3,5 meter x 30 meter. Mesin pompa air hingga tandon sebagai penampungan air juga disediakan. Bangunan kandang terbilang jauh dari pemukiman penduduk.
Pada tahap awal, kebutuhan pakan juga masih mendapat dukungan manajemen. Namun, seiring berkembangnya usaha, kelompok kini mulai mampu memenuhi kebutuhan pakan secara mandiri.
Selain memberikan sarana dan prasarana, manajemen PT Pertamina EP Donggi Matindok juga memberikan edukasi kepada anggota kelompok terkait pengembangbiakan ayam petelur, kesehatan ternak serta tata cara beternak yang baik dan benar.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengelola usaha secara berkelanjutan.
Manajemen PT Pertamina EP DMF memastikan keberhasilannya dan dianggap mandiri barulah dilepas sepenuhnya.
Awalnya, manajemen menyediakan 200 ekor ayam. Dari jumlah itu, kini tersisa 184 ekor ayam. Per Maret 2026, anggota kelompok ternak ini mulai menikmati hasilnya. Ayam-ayam itu mulai bertelur.
Melalui Kelompok Usaha Bersama Ayam Lestari, masyarakat setempat kini mampu mengembangkan usaha ayam petelur yang hasilnya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan telur di wilayah sekitar.
Joni, anggota Kelompok Usaha Bersama Ayam Lestari menyebut, produksi telur saat ini mencapai sekitar 150 butir per hari. Hasil tersebut langsung dipasarkan kepada masyarakat sekitar, sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok.
Jumlahnya bisa lebih dari 150 butir. Hanya saja, telur ukuran kecil yang tak dipasarkan akan dimanfaatkan untuk kebutuhan lauk anggota kelompok.
Satu rak berisi 30 butir dijual dengan harga Rp50 ribu. Harga terbilang murah dibandingkan harga pasaran. Dengan jumlah itu, maka setiap hari kelompok ini menghasilkan 5 rak telur atau jika dirupiahkan menjadi Rp250 per hari. Dalam sebulan, kelompok ini mengunpulkan pundi-pundi rupiah di angka Rp7.500.000.
Pendapatan itu bisa dibilang kecil jika dibagi dengan seluruh anggota kelompok. Namun, bagi mereka ini adalah langkah awal meniti jalan sukses.
“Alhamdulillah, walaupun kecil, karena harus dibagi dengan teman-teman kelompok,” ungkap Joni, salah satu anggota kelompok ternak.
Hasil pendapatan itu, mereka kelola dengan baik. Sebab, mereka harus menyiapkan untuk pembelian pakan dan operasional lainnya.
Mereka bersepakat bahwa hasilnya memang belum sepenuhnya bisa dinikmati saat ini. Namun, dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang, harapan untuk sukses itu terbuka lebar. “Kami bersepakat, komitmen kami bersama, usaha ini akan terus kita kembangkan. Jadi, memang sekarang belum, tapi Insya Allah, dua atau tiga tahun berikutnya, ayam-ayam ini akan terus bertambah,” sahut Rahman.
Paling tidak, lauk kebutuhan konsumsi anak istri di rumah terjawab. “Alhamdulillah, makan sudah ada lauk. Kan tidak tiap hari kami di kandang, ada jadwalnya bergantian. Jadi, ada kesempatan bekerja di tempat lain,” kata Amir, rekan mereka.
Joni dan dua rekan lainnya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap komitmen manajemen PT Pertamina EP DMF yang telah memberi kesempatan terhadap kelompok ternak mereka menjadi penerima manfaat program tersebut.
Betapa tidak, Pertamina DMF dianggap serius dan komitmen memberikan dukungan kepada kelompok sejak awal pengembangan usaha hingga benar-benar menemui kemandirian.
Apresiasi mendalam kepada Pemerintah Desa Kayowa hingga Pemerintah Kecamatan Batui Selatan yang memberikan dukungan dalam hal kemudahan pengurusan kebutuhan administrasi.
Program PPM PT Pertamina EP DMF dirancang bukan hanya sekadar memberikan bantuan, tapi membangun pemberdayaan dan pelibatan masyarakat, agar kelompok mampu berkembang secara mandiri.
Manajemen Pertamina EP Donggi Matindok menyebut program pemberdayaan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk membangkitkan ekonomi lokal melalui keterlibatan langsung masyarakat.
Para anggota kelompok bukanlah mereka yang mumpuni dalam hal ekonomi. Itulah sebabnya, sasaran program ini menyentuh kalangan berpenghasilan rendah. Dengan harapan, bantuan program PPM meningkatkan taraf hidup warga.
Di Desa Kayowa, selain bantuan ayam petelur, manajemen juga menyentuh sektor pertanian. Sedikitnya 26 anggota kelompok tani disasar manajemen di desa ini dengan luasan lahan garapan mencapai 33 hektare . Salah satu penerima manfaat bidang pangan ini adalah Kelompok Tani Motoutus. Kelompok Tani Motoutus menanam jagung dengan luas garapan 6 hektare.
Setali tiga uang dengan kelompok ternak. Di Kelompok Tani Motoutus bersama dengan anggota kelompok tani lainnya, Pertamina DMF mengembangkan inovasi pupuk bioferdom.
Relation PT Pertamina DMF, Syair menjelaskan bahwa Bioferdom merupakan pupuk organik berbasis biosulfur yang dikembangkan PT Pertamina EP DMF. Pupuk ini memanfaatkan produk samping pengolahan gas yang mengandung sulfur dan mengombinasikan dengan bahan organik, termasuk pupuk kandang.
Tentu, manfaatnya menambah unsur sulfur yang dibutuhkan tanaman, mendukung kesuburan tanah dan ketersediaan unsur hara, berpotensi membantu meningkatkan produktivitas tanaman serta menekan biaya pemupukan.
Terhadap para anggota kelompok tani, manajemen mendirikan wadah edukasi yang diberi nama Sekolah Lapang Bioferdom. Para petani binaan ini diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menularkan pengetahuan dan praktik pertanian kepada petani lainnya.
“Kami membina 26 petani binaan untuk menebarkan virus-virus baik kepada petani lainnya,” jelas Syair.
Ia mengatakan, salah satu manfaat yang dirasakan petani adalah efisiensi biaya pemupukan. Jika menggunakan pupuk komersial, biaya yang dikeluarkan petani dapat mencapai sekitar Rp300 ribu per sak, sementara melalui inovasi Biofordem, petani memperoleh pupuk sulfur yang dikembangkan dalam program PEP DMF.
Seiring pelaksanaan program, luasan lahan petani binaan bahkan telah mencapai sekitar 33 hektare. PEP DMF juga terus mendorong petani menerapkan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari teknik penanaman, pengaturan jarak tanam hingga pemeliharaan tanaman.
“Petani sebelumnya belum memiliki formulasi untuk menghasilkan produksi panen yang maksimal, mulai dari teknik menanam, jarak tanam hingga edukasi berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Syair, peningkatan hasil panen akan berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani. Penerapan Biofordem juga disesuaikan dengan kondisi lahan di Desa Kayowa yang saat ini banyak dikembangkan untuk tanaman jagung.
“Pupuk Bioferdom ini untuk memperbaiki tanah. Lahan percontohan seluas satu hektare bisa menghasilkan hingga enam ton. Biofordem ini sambil berjalan juga terus kami selidiki dan kembangkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mosaangu, Beni Irawan, mengaku banyak memperoleh pengetahuan baru sejak bergabung dalam program Sekolah Lapang Bioferdom.
Sebelumnya, ia mengaku belum memahami teknik budidaya jagung yang benar, termasuk cara mengendalikan hama dan mengaplikasikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman.
“Dengan adanya sekolah lapang ini, kami mengerti cara mengatasinya. Sampai detik ini bisa dilihat, meskipun kemarau, tanaman jagung hasilnya tetap maksimal,” ujar Beni.
Ia mengatakan, bantuan Bioferdom sangat membantu petani, terutama dalam menentukan takaran dan dosis pupuk yang tepat.
Menurutnya, penggunaan pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Jika dosis tidak tepat, hasil yang diperoleh juga tidak akan maksimal.
“Sebagai penerima manfaat pupuk Bioferdom ini sangat membantu kami, terutama bagaimana cara mengaplikasikan dengan takaran dan dosis yang tepat. Sebab, jika tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman, pasti tidak maksimal,” katanya.
Beni juga merasakan adanya efisiensi biaya produksi. Sebelum mengikuti program tersebut, pengeluaran untuk pupuk cukup besar karena petani lebih banyak menggunakan pupuk kimia.
Dalam satu hektare, kata dia, petani sebelumnya dapat menggunakan sekitar delapan sak pupuk NPK dan delapan sak pupuk urea. Dengan dukungan Bioferdom, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
“Dulunya pengeluaran cukup banyak. Saat ini terjadi efisiensi dana yang kami gunakan,” ujarnya.
Beni menyebut, dari hasil penjualan jagung, pendapatan yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp24 juta per hektare.
Sementara untuk biaya pupuk, penggunaan pupuk kimia dalam satu hektare dapat mencapai sekitar Rp2 juta. Setelah menggunakan Bioferdom, biaya tersebut dapat ditekan hingga sekitar Rp400 ribu.
“Dengan adanya pupuk Biofordem, kami bisa melakukan efisiensi anggaran. Biasanya kami menggunakan pupuk kimia. Bioferdom ini sangat menguntungkan bagi petani,” katanya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan PEP DMF melalui program kelompok tani dan Sekolah Lapang Bioferdom yang memberikan edukasi secara berkelanjutan kepada petani.
“Keterlibatan PEP di kelompok tani dan sekolah lapang, kami diberikan edukasi. Terima kasih kepada manajemen Pertamina DMF yang telah mengajarkan kami bagaimana cara menghasilkan produksi maksimal,” tuturnya.
Program tersebut menunjukkan bahwa pendampingan petani tidak hanya berfokus pada pemberian pupuk, tetapi juga peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani dalam mengelola lahan secara lebih tepat dan efisien.
Melalui penerapan Bioferdom dan pendampingan Sekolah Lapang, PEP DMF mendorong petani Kayowa meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menekan biaya produksi, sehingga hasil pertanian dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
PROGRAM & PRESTASI PPM PERTAMINA DMF

Program PPM Pertamina EP DMF bukan hanya di atas kertas. Bukti nyata dapat ditelusuri di berbagai tempat. Manajemen seolah tak Ikhlas program yang mereka biaya berhenti di tengah jalan. Buntutnya, beragam penghargaan bergengsi berhasil mereka rengkuh yang dijalankan penuh tanggungjawab kewajiban terhadap masyarakat.
Program Maggagonik PT Pertamina DMF adalah buktinya. Dari sampah organik menjadi pakan ternak berpotein dan pupuk organik.
Program ini dilatari risiko social license of operate (SLO) tinggi pada operasi migas, pendapatan warga rendah, biaya pakan menyerap 60 hingga 70 persen dari biaya produksi serta penumpukan sampah organik di sungai dan sekitarnya.
Target sasaran program, 20 petani dan peternak, 500 Kg sampah organik terkelola serta pengembangan produk alternatif. Dimulai tahun 2022, yakni penjajakan dengan penguatan kelembagaan dan peningkatan saran dasar budidaya maggot.
Tahun 2023, peningkatakan kapasitas dengan pengembangan produk turunan berbasis maggot. Tahun 2024 dilakukan integrasi dengan penguatan pertanian dan periknan terintegrasi. Tahun 2025, diseminasi dan replikasi denan penyebarluasan dan replikasi program. Nah, tahun 2026, exit strategy dengan menyiapkan kelompok sebagai agen perubahan.
Outputnya, meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengembangkan produk alternatif berbasis maggot. Tersedianya sarana dan prasarana produksi serta meningkatnya kemampuan kelompok mengelola sampah organik melalui maggot.
Hasil yang diharapkan, terciptanya produk maggot segar dan kering sebagai pakan berprotein tinggi. Terciptanya pupuk organik dari maggot serta metode pertanian dan peternakan terintegrasi.
Dari program ini, Pertamina DMF mendapatkan beragam penghargaan. Yakni, diseminasi inovasi dengan Universitas Muhammadiyah, diseminasi inovasi dengan Pemerintah Desa Sentrasl Timur dan diseminasi inovasi melalui media gathering regional Indonesia Timur.
Replikasi program cakupannya dua desa, yakni Desa Cendana Pura dan Tirta Jaya, Kecamatan Toili Barat.
Program ini dikembangkan sebagai wujud sinergi lintas fungsi dan pemangku kepentingan dalam hal perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Keterlibatan multipihak, yakni Kelompok BSF Gen Toili, Pemerintah Desa Sentral Timur dan Pemerintah Kecamatan Toili. Sementara pelibatan kalangan akademik adalah Universitas Muhammadiyah Luwuk.
Dampaknya sudah dapat dirasakan. Masyarakat khususnya kelompok sudah menjadikan sebagai sumber pendapatan baru berkelanjutan. Belum lagi, 500 Kg lebih sampah organik per bulan jadi produk bernilai. Sedikitnya 20 petani dan peternak mengakses pakan alternatif dan pupuk organik.
Untuk memastikan program ini terus berlanjut, paling tidak, terdapat tiga rencana tindak lanut yang dirumuskan manajemen PT Pertamina DPF. Yakni, legalitas dan uji laboratorium produk maggot kering, memperkuat BSF Gen Toili sebagai agen perubahan serta membangun jejaring kemitraan dengan BUMDes, Koperasi Merah Putih dan stakeholder lainnya.
Maggagonik membuktikan bahwa pengelolaan sampah organik dapat menjadi pintu menuju kemandirian ekonomi, lingkungan yang lebih sehat, dan masyarakat yang berdaya.
Hasil kerja keras tim berbuah manis. Selain berhasil penerapan program di masyarakat, manajemen meraih penghargaan bergengsi. Tahun 2026 ini, Pertamina DMF meraih penghargaan Gold Pilar Sosial SDGs pada ajang Indonesian SDGs Award atau ISDA.
Penghargaan itu diraih melalui program Sekolah Lapang Bioferdom, Berhasil mengembangkan inovasi pengolahan produk samping industri hulu migas menjadi pupuk organik.

Tahun 2025, Pertamina DMF meraih penghargaan bergengsi internasional. Berhasil meraih Gold Medal di ajang 23rd Interntional Inovation Exhibition ARCA 2025 di Kroasia. Yang cukup membanggakan, Pertamina DMF menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia.
Raihan prestasi itu adalah inovasi mengelola biosulfur, produk samping dari proses gas sweetening menjadi pupuk organik melalui pendekatan bioteknologi.

Bahkan, inovasi bioferdom milik Pertamina DMF inilah yang mengharumkan nama Indonesia meraih penghargaan tertinggi seantero jagad. Forum Inovasi Internasional di Guangzhou, China tahun 2025, inovasi Pertamina DMF bertajuk ‘Biotechnological Advance in Organic for Sustainable Agricuture’ meraih Grand Prize.
GM Zona 13, Andry tak ingin jumawa atas beragam raihan membanggakan. “Kunci keberhasilan tim adalah kolaborasi kuat dengan masyarakat sekitar wilayah operasi. Melalui inovasi ini, kami berhasil mengolah produk samping menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi ketahanan pangan sekaligus lingkungan,” ungkap Andry usai menerimaan penghargaan saat itu.
Wakil Ketua II, DPRD Banggai, I Putu Gumi menyampaikan apresiasi tinggi dan menaruh hormat atas berbagai program PPM Pertamina DMF.
Politisi tiga periode yang dikenal low profile ini menegaskan bahwa program yang diwujudkan Pertamina DMF harusnya menjadi contoh bagi seluruh perusahaan yang berinvestasi menanmkan modalnya di Kabupaten Banggai.
Khazanah kekayaan sumber daya alam milik Kabupaten bermotto ‘Momposaangu Tanga Mombulakon Tano (menyatukan pendapat membangun daerah) sebut Gumi, sejatinya bagi pperusahaan tidak hanya mengeruk keuntungan semata, tetapi memberi dampak baik terhadap kehidupan masyarakat.
Jika seluruh perusahaan pengeruk sumber daya alam berkomitmen selayaknya Pertamina DMF, maka Gumi berkeyakinan, masyarakat yang belum tersentuh program pemerintah daerah akan terakomodir. “Kami berharap, apa yang telah ditunjukkan Pertamina DMF menjadi virus baik bagi perusahaan lainnya,” harap I Putu Gumi. ***