Tomat Program SJSP di Pohi Dibagikan Sudah Berbuah, Kini Tersisa Polybag

0

BANGGAI, OKENESIA.COM- Sepertinya, Pemda Banggai segera mengevaluasi Program Satu Juta Satuu Pekarangan (SJSP) yang merupakan salah satu program andalan di daerah ini. Betapa tidak, program yang diklaim menuai sukses hingga berperan penting dalam upaya penurunan angka kemiskinan nampaknya masih jauh api dari panggang.

Dari penelusuran Okenesia.com dalam beberapa hari ini, program SJSP ini belum menunjukkan keberhasilannya. Paling tidak, sampel sederhananya di beberapa titik di empat kecamatan.

Di Desa Pohi dan Desa Bantayan, Kecamatan Luwuk Timur misalnya. Tanaman semacam rica dan tomat, kini mengering dan menyisakan polybagnya saja.

Salah satu ibu rumah tangga di Desa Bantayan mengaku, tanaman rica dan tomat yang mereka terima pada tahun 2023 sudah mengering. Dua jenis tanaman hortikultura itu ditanami di belakang rumahnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Pohi. Ibu Hawariyah, salah satu penerima program SJSP di sektor perkebunan.

Hawariyah bersama warga lainnya mendapatkan distribusi bantuan 35 tanaman rica di polybag dan 25 tanaman tomat. “Torang (kami) terima itu tomat sudah ada depe buah,” tutur Hawariyah sembari memperlihatkan tanaman rica di belakang rumahnya, Jumat (21/6/2024).

Dari 50 polybag dua jenis tanaman itu, tanaman tomat sudah tak ada lagi yang hidup. Tersisa polybagnya saja. Sementara tanaman rica, masih hidup. Hawariyah mengaku, telah memindahkan tanaman rica dari polybag sebagai media tanam.

Hal tersebut ia lakukan, karena media tanam polybag itu kerdil tak berkembang bagus. Sejak awal menerima distribusi bibit itu, Hawariyah mendapatkan dua botol yang disebutnya sebagai pembasmi hama.

Ia bersama warga lainnya mendapatkan bantuan itu dari pemerintah desa setempat. Hawariyah mengaku bahwa bantuan bibit itu adalah program satu juta satu pekarangan. Paling tidak, ia mengetahui bahwa program yang disalurkan itu adalah program SJSP dari penjelasan aparat pemerintah desa.

Sejak ia menanam dua jenis tanaman itu, Hawariyah mengaku, belum pernah menjual hasil panen. Praktis, hanya untuk konsumsi kebutuhan keluarganya. “Belum pernah bajual, untuk di rumah saja,” tuturnya.

Fakta serupa yang dialami Hawariyah juga ditemukan di tempat lainnya di desa itu. Tanaman sebagian sudah mengering. (top)

Comments
Loading...