Warga Biak Penerima Program SJSP Mengaku Kecewa

0

BANGGAI, OKENESIA.COM- Salah satu warga Desa Biak, Kecamatan Luwuk Utara, Kabupaten Banggai penerima program Satu Juta Satu Pekarangan (SJSP) menyampaikan kekecewaannya. Adalah Nurdin P. Piobo.

“Sebagai penerima (program SJSP), saya kecewa,” ungkap Nurdin kepada pewarta, Senin (24/6/2024).

Nurdin bersama warga Desa Biak mendapatkan bantuan berupa 50 polybag, tanaman rica dan terong. Tanaman itu mereka terima sebulan yang lalu.

Tanaman terong mereka terima lebih dahulu, lalu sepekan berikutnya mereka menerima tanaman rica. Ada beberapa alasan hingga ia mengaku kecewa bahkan bisa dibilang menyesal menerima program itu.

Pertama, distribusi bibit. Proses pendistribusian dua jenis tanaman itu kata Nurdin, tidak disalurkan oleh aparat pemerintah desa, kecamatan atau instansi Pemda Banggai. Justru, penerima sendiri yang mengambil bibit tanaman.

Sementara Nurdin yang tiba belakangan setelah mendapatkan pemberitahuan dari aparat desa setempat hanya mendapatkan bibit yang tak bermutu. Sebagian besar bibit yang ia bawa pulang sudah dalam kondisi layu. Bibit-bibit yang mereka terima dalam kondisi sudah berbuah.

Sejatinya kata Nurdin, bibit itu didistribusikan oleh petugas, bukannya dipilih sendiri oleh penerima. Kesannya, seperti dibiarkan begitu saja. Seolah, terpenting, distribusi bantuan sudah dilakukan.

“Sebenarnya yang kami terima itu bukan bibit, tapi tanaman siap panen, karena sudah berbuah,” ungkap Nurdin sembari memperlihatkan tanaman di pekarangan tetangganya yang berada tak jauh dari rumahnya.

Alasan kedua yang membuat Nurdin kecewa adalah, bibit-bibit itu diambil oleh penerima di SMP 5 Luwuk Utara, bukan didistribusikan langsung ke desa mereka. Artinya, jarak antara desa mereka dengan lokasi pengambilan bibit itu butuh biaya. Bayar kendaraan pengangkut bibit.

Dibandingkan dengan hasil produksinya diakui Nurdin, tak sebanding. Apalagi, tanaman itu tidak dijual, hanya konsumsi semata.

Sebagai pekebun tulen, Nurdin tahu persis proses pembibitan hingga proses pemeliharaan. Jika diberikan dalam bentuk bibit polybag apalagi yang sudah berbuah, Nurdin merasa kesulitan. Justru, alangkah lebih bagusnya, bukannya tanaman sudah mendekati masa panen, tapi bibit. “Logikanya, lebih baik diberikan bibit, jadi lebih produktif. Sedikit lagi sapal (sapal arti Bahasa Saluan semisal buah yang gagal sebelum masa panen),”kata Nurdin.

Ia menyebut lebih baik diberikan bibit ketimbang tanaman mendekati panen. Sebab kata dia, proses semai yang baik, akan menghasilkan tanaman dan buah yang baik pula. “Kalau dari persemaian bagus, tentu bagus hasilnya. Saya diberi bibit, malah lebih bagus hasilnya,” tutur Nurdin.

Selain 50 polybag dua jenis tanaman itu, penerima program itu mendapatkan dua botol, yakni pupuk kesuburan tanaman dan satu botolnya lagi pupuk hama.

Kini, tanaman yang mereka terima itu sebagian besarnya sudah kering alias mati. “Banyak yang mati. Tidak ada hasil, seperti hiasan. Saya perhatikan, lebih banyak yang mati daripada yang hidup. Bibit antaboga atau jenis apa, tentu kita tahu juga caranya. Kerdil, karena dari cara pembibitan. Malah lebih efektif itu kalau diberikan bibit,” ungkap Nurdin sembari berbagi tips menanam.

Di media tanam polybag yang mereka terima sebut Nurdin, seluruhnya berupa sekam padi, tidak ada unsur tanahnya. Nurdin sempati ribut saat mengambil bibit-bibit itu, karena dinilainya tidak dikelola dengan baik. (top)

Comments
Loading...