Hanisi Tolombot, Bertahan Hidup dari Keranjang Pepaya di Pinggir Jalan Luwuk

0

Di antara deru kendaraan, seorang wanita paruh baya duduk tanpa alas di antara tumpukan pepaya dengan sabar. Namanya Hanisi Tolombot,

Di bulan Mei nanti, Hanisi Tolombot akan genap berusia 60 tahun. Wanita paruh baya ini berasal dari Desa Paisubatu, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan. Namun selama lebih dari empat dekade terakhir, ia menetap bersama suami dan anak-anaknya di Buon, Kecamatan Luwuk Utara.

OLEH: SUTOPO ENTEDING

Perjalanan pindahnya ke Luwuk pada 1975 adalah keputusan besar demi memperbaiki hidup keluarga.
“Dulu di Bangkep, mungkin tidak bisa menyekolahkan anak-anak. Kami pindah supaya bisa cari makan, supaya anak-anak bisa sekolah,” Hanisi menuturkan alasan pindah dari tanah kelahirannya.

Ia menceritakan kepada pewarta yang menghampirinya, Senin (23/3/2026).

Hanisi kini berjualan pepaya di pinggir Jalan Samratulangi, Kelurahan Bungin, Kecamatan Luwuk.

Saban hari, ia membawa keranjang berisi pepaya yang dibelinya dari orang lain. Beratnya bervariasi, bisa mencapai 200 kilogram, tapi hari itu ia membawa 108 kilogram.

Pepaya jenis California itu ia peroleh dari orang lain. Ia membelinya lalu mendagangkannya kembali. Sekilo ia beli seharga Rp7 ribu, lalu dijualnya per buah.

Harga buah pun berbeda-beda, tergantung ukuran. Pepaya terbesar ia jual Rp25 ribu per biji, yang kecil Rp5 ribu, dan kadang ia membuat paket tiga buah seharga Rp10 ribu.

Untuk sampai ke lokasi jualan, Hanisi menempuh perjalanan dari Buon ke Luwuk naik mobil, mengeluarkan ongkos hingga Rp70 ribu jika membawa barang dagangan.

Pulang dari Luwuk, ia naik ojek seharga Rp35 ribu. Meski menguras tenaga dan ongkos, ia tetap memilih untuk berdagang. Penghasilannya memang tidak seberapa. Hanisi tak merinci berapa hasil jualannya dalam sehari, tapi cukuplah untuk biaya makan dan sebagian disisihkan keperluan pendidikan buah hatinya.

“Daripada duduk saja, dapat sedikit yang penting bisa untuk makan,” kata Hanisi.

Hari-harinya dimulai sejak pukul 07.00 Wita dan biasanya baru pulang antara pukul 17.00–18.00 Wita.

Sebelumnya, ia sempat berjualan di Pasar Simpong. Ia memilih menjual eceran di pinggir jalan karena keuntungannya lebih baik, meski harus menunggu calon pembeli berjam-jam.

Sementara itu, suami Hanisi bekerja sebagai petani. Mereka memiliki lahan seluas sekitar enam hektare yang ditanami beragam jenis tanaman. Kelapa yang ditanam belum sepenuhnya berbuah, tinggal menunggu panen.

Di Desa Paisubatu sebelum menetap di Buon, Hanisi bersama sang suami menanam umbi-umbian, tetapi hasilnya tidak seberapa.

Ia dikaruniai tujuh anak. Empat anaknya sudah berumah tangga. Sementara tiga anaknya belum menikah dan masih bersamanya.

Hanisi merasa bangga, karena beberapa anaknya kini sukses menjadi guru dan perawat, bahkan ada yang bertugas di Manado, ibu kota Sulawesi Utara.

Bagi Hanisi, meski usianya tidak muda lagi, yang terpenting adalah bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan melihat anak-anaknya berhasil.

Dengan keranjang pepaya di pinggir jalan, Hanisi Tolombot bukan hanya menjual buah, tapi ia menjual ketekunan, kerja keras, dan harapan.

Sebuah kisah sederhana tentang bertahan hidup dan meraih masa depan yang lebih baik. (***)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!