Lantunan musik era kekinian samar terdengar dari balik dinding kaca sebuah toko berjaringan di seantero nusantara. Namun bagi seorang wanita paruh baya yang duduk bersila di sisi kanan pintu masuk, irama itu seolah tak pernah ada.
OLEH: SUTOPO ENTEDING
Tubuhnya sedikit membungkuk. Pakaiannya serba gelap dan tampak lusuh, kontras dengan gemerlap etalase di dalam toko. Ia hanya diam, tak menjulurkan tangan, tak pula menyapa.
Pandangannya kosong, sesekali mengikuti keluar-masuknya para pengunjung yang berlalu tanpa benar-benar melihatnya.
Di tengah riuh transaksi dan langkah kaki yang tak pernah berhenti, ia memilih menjadi sunyi, menunggu, entah apa, entah siapa.
Tak ada yang tahu pasti sejak kapan ia mulai duduk di sana. Para pegawai toko hanya sesekali melirik, sebagian pengunjung memilih menghindar, sementara yang lain pura-pura tak melihat.
Dalam dunia yang bergerak cepat, keberadaannya seperti jeda yang tak diinginkan.
Namun, di antara sekian banyak orang yang berlalu, masih ada mereka yang peduli.
Seorang perempuan muda, misalnya, berhenti sejenak. Ia tidak banyak bicara, hanya menyodorkan sebungkus makanan dan sebotol air mineral.
Wanita paruh baya itu menerimanya dengan gerakan pelan, nyaris tanpa suara. “Makasih Bu,” ucapnya lirih sembari membungkukkan badan seolah memberi penghormatan kepada sang pemberi.
Tatapannya berubah, bukan bahagia, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia masih merasa dianggap ada.
Seorang pengemudi ojek daring menyisihkan uang recehnya. Tak besar, tapi cukup untuk sekadar membeli segelas kopi hangat di warung terdekat.
“Kasihan saja, sering lihat dia di sini,” ucapnya singkat sebelum kembali menarik gas motornya.
Kepedulian-kepedulian kecil itu mungkin tak mengubah nasib secara instan. Tak mengangkatnya dari kerasnya hidup di jalanan. Namun di situlah asa itu tumbuh dari hal-hal sederhana yang kerap luput dari perhatian.
Wanita itu tak meminta. Ia juga tak memaksa siapa pun untuk memberi. Barangkali, diamnya adalah cara terakhir menjaga martabat yang tersisa. Atau mungkin, ia sudah terlalu lelah untuk berharap lebih.
Luwuk, seperti banyak kota lain, menyimpan cerita-cerita serupa di sudut-sudut yang jarang disorot.
Tentang mereka yang bertahan dalam keterbatasan, dan tentang segelintir orang yang masih memilih untuk peduli.
Di balik gemerlap lampu toko dan hiruk pikuk kehidupan modern, selalu ada ruang sunyi yang menunggu disentuh empati.
Sebab pada akhirnya, asa itu tidak selalu datang dari yang besar. Ia justru hidup dari hal-hal kecil, dari sebotol air, sebungkus makanan, atau sekadar kesediaan untuk melihat dan mengakui bahwa mereka yang terpinggirkan itu, tetap manusia.
Dan mungkin, dari merekalah kita belajar, bahwa kepedulian adalah bentuk paling sederhana dari kemanusiaan. ***