Perempuan Berhijab Jingga di Tanah Haram (Bagian II)

0

Magnet Hilma, bukan hanya sebatas isapan jempol belaka. Nyata!

“Cantik, baik, macam bidadari dia itu,” begitu ungkapan hati, Punuk.

Punuk, remaja kurus nan tak terurus adalah kakak setingkat Hilma. Punuk salah satu dari sekian banyak pengagum Hilma.

Meskipun menjadi pengagum, Punuk sadar diri. Istilah ‘punuk merindukan bulan’ benar-benar tersaji. Ia berjarak, bak antara langit dan bumi. Punuk berada di dasar bumi, Hilma di atas awan.

Untuk sekadar menyapa Hilma, Punuk tak berani. Punuk hanya mampu menatap dari kejauhan atau sekadar mencuri pandang. Hati Punuk bahagia, walau hanya melihat Hilma dari belakang. Sekejap bayangan Hilma menghilang, hati Punuk bahagia.

Punuk, remaja miskin nyaris tak bisa membedakan. Sebagai pengagum sekaligus jatuh cinta. Self confidence Punuk, tak punya. Rasa cintanya hanya dipendam. Untuk sekadar mengirimkan surat pun tak ada keberanian.

Kondisi fisik Punuk, kurus, kusam tak terurus adalah alasan utamanya. Ia hanya bisa memendam rasa dengan mengalihkannya untuk berkonsentrasi belajar dan belajar. Menghabiskan buku-buku di perpustakaan sekolah. Berjam-jam membaca. Hanya itu yang bisa dilakukan Punuk. Tak lebih.

Menjelang kenaikan kelas, tetiba Hilma menghilang. Perasaan Punuk, sedih. Tak hanya Punuk yang merasa kehilangan, tapi yang lainnya pun merasakan hal serupa. (bersambung)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!