Lapar, Perang & Iman: Cerita Keteguhan Warga Gaza Yang Menggetarkan

0

Suasana sebuah rumah makan di Kelurahan Maahas, Kecamatan Luwuk Selatan, Kabupaten Banggai, Kamis (5/3/2026), terasa berbeda dari biasanya.

Seorang tamu dari Timur Tengah menyampaikan kisah yang jauh dari kata biasa.

 

OLEH: SUTOPO ENTEDING

Ia adalah Syaikh Muhammad Amin Gaiz, seorang warga negara Yordania yang memiliki garis keturunan Palestina.

Kakeknya merupakan warga asli Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya saat peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai Nakba.

Didampingi Ahmad Rofiki dari Lembaga Sodaqah Jakarta yang juga menjadi penerjemah, Syaikh Amin berbagi cerita tentang kondisi terkini di Gaza kepada para pewarta di Luwuk.

Bagi Syaikh Amin, kedatangannya ke Indonesia bukan sekadar kunjungan biasa. Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
“Indonesia adalah negara mayoritas Muslim yang paling jauh dari Palestina. Setelah Indonesia, tidak ada lagi komunitas negara Muslim yang lebih jauh dari sana,” ujarnya melalui penerjemah.

Meski dipisahkan jarak ribuan kilometer, menurutnya solidaritas masyarakat Indonesia terhadap Palestina terasa sangat kuat. Jumlah penduduk Muslim yang melampaui 300 juta jiwa menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan moral terbesar bagi perjuangan rakyat Palestina.

Namun, ia juga memahami bahwa jarak geografis, perbedaan bahasa, hingga minimnya interaksi langsung membuat banyak orang Indonesia belum sepenuhnya mengenal realitas masyarakat Arab, khususnya Palestina.

Dalam diskusi tersebut, Syaikh Amin memaparkan perkembangan situasi di Gaza setelah fase kedua gencatan senjata yang terjadi sekitar lima bulan lalu.

Ia menjelaskan bahwa sempat ada kesepakatan yang disebut Board of Peace yang salah satu poinnya adalah pembukaan penyeberangan Rafah Border Crossing serta penarikan pasukan Israel dari wilayah Gaza.

Perang memang telah mereda, namun situasi belum sepenuhnya pulih.
“Serangan masih terjadi, tetapi dalam skala yang lebih kecil,” katanya.

Menurutnya, masih tercatat ratusan pelanggaran yang dilakukan Israel setelah kesepakatan tersebut.

Salah satu masalah paling serius adalah distribusi bantuan kemanusiaan.
Secara ideal, sekitar 600 kontainer bantuan masuk setiap hari ke Gaza. Namun pada kenyataannya, hanya sekitar 100 kontainer yang berhasil masuk.

Jumlah tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Kondisinya memang sedikit lebih baik dibanding sebelumnya, tetapi masih sangat kurang,” ujar Syaikh Amin.

Padahal dalam kondisi normal sekalipun, Gaza sangat bergantung pada pasokan makanan dari luar wilayahnya.

Bulan suci Ramadan di Gaza juga berlangsung dalam suasana yang jauh dari kata normal.

Dari sekitar 1.200 masjid yang ada di Gaza, lebih dari 1.000 masjid dilaporkan hancur akibat dihantam misil yang dijatuhkan pesawat tempur militer zionis Israel.

Akibatnya, banyak warga terpaksa melaksanakan ibadah di tenda-tenda pengungsian dan di antara puing-puing reruntuhan gedung.

Kondisi pangan pun memprihatinkan.
Menurut Syaikh Amin, kebutuhan makanan warga Gaza saat ini hanya terpenuhi sekitar 20 persen, sementara 80 persen lainnya masih mengalami kekurangan.

Dalam situasi seperti itu, masyarakat memilih untuk berbagi apa yang ada.
“Kalau biasanya makan tiga kali sehari, sekarang mereka bagi menjadi satu kali saja,” ungkapnya.

Distribusi bantuan pun tidak selalu berjalan lancar. Ia menyebut adanya penjarahan oleh kelompok milisi bentukan Israel yang mengambil sebagian bantuan yang seharusnya diperuntukkan bagi warga sipil.

Di tengah keterbatasan itu, para pejuang Palestina tetap bertahan.
Syaikh Amin menceritakan bahwa cadangan logistik yang dimiliki sebelumnya hanya diperkirakan cukup untuk tiga bulan. Namun konflik justru berlangsung hingga dua tahun.

Baginya, kekuatan terbesar para pejuang bukan sekadar logistik.
“Yang paling besar adalah keimanan dan keteguhan mereka,” katanya.

Meski lapar dan kelelahan, mereka tetap bertahan demi mempertahankan tanah kelahiran.

Dalam pertemuan itu, Syaikh Amin juga menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Indonesia.

Pertama, ia meminta agar masyarakat Indonesia terus mendoakan kemerdekaan Palestina.

Kedua, ia menekankan pentingnya gerakan boikot terhadap produk-produk yang berkaitan dengan Israel sebagai bentuk tekanan ekonomi.
“Boikot bukan hanya sikap moral, tapi juga hukuman ekonomi untuk melemahkan mereka,” ujarnya.

Ketiga, ia menyoroti peran advokasi dan media. Menurutnya, media memiliki kekuatan besar dalam menjaga isu Palestina tetap hidup di mata dunia.
“Yang membuat Palestina tetap hidup di seluruh dunia adalah media,” kata Syaikh Amin.

Karena itulah, ia berharap suara solidaritas dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, tidak pernah berhenti.

Syaikh Amin sendiri dijadwalkan berada di Luwuk selama beberapa hari sebelum kembali melanjutkan perjalanan pada Minggu mendatang.

Namun kisah yang ia bawa dari Gaza seakan menjadi pengingat bahwa di balik jarak yang jauh, ada penderitaan yang tetap menunggu perhatian dunia. (***)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!