JAKARTA, OKENESIA.COM- Ini adalah artikel yang diterbitkan di surat kabar “Washington Post”, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara akurat dengan tetap menjaga makna aslinya.
Komentator David Ignatius di surat kabar Washington Post menggambarkan perselisihan Saudi – UEA sebagai “konflik epik yang mengancam stabilitas Timur Tengah pada saat yang sensitif”, seraya menegaskan bahwa perselisihan antara dua sekutu regional tersebut secara langsung berdampak pada rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membentuk kembali kawasan.
Pertama: Dari Aliansi Strategis ke Konflik Terbuka
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab selama ini dipandang sebagai motor modernisasi di Timur Tengah, terutama di tengah melemahnya pengaruh Iran dan kelompok-kelompok proksinya serta mendekatnya armada Amerika Serikat ke kawasan Teluk.
Namun alih-alih merayakan perkembangan tersebut, perselisihan antara kedua negara meningkat sejak akhir Desember. Awalnya berkaitan dengan strategi mengakhiri perang di Yaman, tetapi kemudian berubah menjadi konfrontasi media dan politik yang tajam.
Kedua: Perang Media Sosial dan Tuduhan Timbal Balik
▪️ Aktivis Saudi melancarkan serangan keras terhadap UEA dan menyebutnya sebagai “kuda Troya bagi Israel”.
▪️ Perjanjian Abraham (2020) dikritik dan disebut sebagai “aliansi politik-militer yang terselubung dalam jubah agama”.
▪️ Menurut riset media yang disampaikan kepada penulis, 77% komentar Saudi yang mengkritik Israel juga menyerang UEA dengan menyebutnya sebagai “agen Israel”.
Sebaliknya, pihak Emirat menilai kampanye Saudi tersebut sebagai provokasi yang disengaja dan berfokus pada hubungan Abu Dhabi dengan Israel.
Analisis lain yang dilakukan oleh perusahaan “Orbis Operations” menunjukkan adanya upaya mengaitkan para pemimpin Emirat dengan isu-isu kontroversial, serta menuduh UEA mendanai kampanye anti-Islam di Eropa.
Ketiga: Sulitnya Mediasi Amerika
Bagi pemerintahan Trump, yang memiliki hubungan dekat dengan kedua negara:
▪️ Pemerintah AS menawarkan diri untuk menjadi mediator, tetapi kedua pihak menolak.
▪️ Seorang pejabat menggambarkan krisis tersebut sebagai:
“Bukan sesuatu yang bisa dimediasi.”
Penulis menilai bahwa persatuan posisi Teluk sangat penting bagi Trump di tengah:
▪️ Ancaman tindakan militer terhadap Iran.
▪️ Upaya melucuti Hamas di Gaza.
▪️ Upaya memperluas hubungan Israel dengan Suriah dan Lebanon.
Keempat: Akar Ketegangan – Kekuasaan dan Kecemburuan Politik
Hubungan antara Sheikh Mohammed bin Zayed dan Mohammed bin Salman sebelumnya digambarkan sebagai hubungan bimbingan dan patronase politik.
Namun seiring naiknya Putra Mahkota Saudi dan penguatan kekuasaannya:
▪️ Pihak Saudi tidak lagi menerima arahan dari negara yang lebih kecil.
▪️ Pihak Emirat tidak ingin menerima perintah dari kekuatan regional dominan.
Perselisihan ini bukan semata-mata politik, tetapi juga menyangkut uang, pengaruh, dan simbol kepemimpinan regional.
Kelima: Perbedaan Kebijakan Regional
Yaman
▪️ Bersekutu melawan Houthi pada 2016.
▪️ Kemudian UEA mendukung kekuatan selatan yang berorientasi separatis.
▪️ Saudi membombardir pasukan yang didukung UEA pada akhir Desember.
▪️ Riyadh menuntut penarikan UEA dari Yaman, dan Abu Dhabi mematuhinya.
Sudan
▪️ Masing-masing pihak mendukung kubu yang berbeda dalam perang saudara.
Suriah, Libya, dan Somalia
▪️ Terlihat perbedaan agenda politik yang jelas.
Keenam: Koridor Ekonomi Timur Tengah
Salah satu bentuk persaingan muncul dalam proyek “Koridor Timur Tengah” yang bertujuan menghubungkan India dengan Israel dan Eropa:
▪️ Rencana awal (2023): dimulai dari Jebel Ali di UEA dan melewati Arab Saudi.
▪️ Kebocoran informasi kemudian mengklaim bahwa Saudi berencana melewati UEA dan memulai dari Oman.
Ketujuh: Isu Houthi dan Kompleksitas Amerika
Pada Maret lalu, Trump meminta seorang pejabat Emirat untuk membantu “menghabisi” Houthi.
UEA menawarkan pengiriman pasukan dengan syarat adanya komitmen Saudi untuk tidak mendukung Partai “Al-Islah” di Yaman.
Menurut versi yang disampaikan dalam artikel, komitmen tersebut tidak terwujud dan kampanye itu pun tidak pernah dimulai.
Kedelapan: Meluasnya Perselisihan ke Diplomasi Regional
Pejabat Emirat meyakini bahwa Saudi mendorong sejumlah negara Islam untuk memboikot “KTT Pemerintahan Dunia” di Dubai.
Hal ini mencerminkan bahwa ketegangan telah meluas ke ranah diplomasi internasional.
Kesimpulan
Ignatius menilai bahwa yang paling berbahaya dalam perselisihan ini bukan sekadar persaingan politik, melainkan meningkatnya serangan yang dikaitkan dengan hubungan UEA dengan Israel.
Ia memperingatkan bahwa mendorong narasi yang menggambarkan UEA sebagai “setan Arab” yang menerima perintah dari Israel merupakan tindakan yang berbahaya, terutama karena Arab Saudi dikenal sebagai salah satu negara yang paling berkepentingan dalam memerangi ekstremisme Islam.
Sumber Asli:
David Ignatius – Washington Post
Dikutip melalui “Al-Quds Al-Arabi” – London – 13 Februari 2026