OLEH: SUTOPO ENTEDING
Jarum jam menunjukkan pukul 00.26 Wita, sederhananya setengah satu malam. Sudah masuk hari Kamis (5/2/2026). Lantunan suara Lana Del Rey yang sedikit manja menyanyikan lagu berjudul ‘Summertime Sadness’ yang diputar berulang di kanal youtube di sebuah laptop mungil, menenami menulis catatan ini.
Tak ada yang spesial di tulisan ini. Bahkan dianggap tidak begitu penting, juga tidaklah jadi soal. Hanya semacam catatan pinggir untuk sekadar mengisi diari, sebuah catatan harian. Itu saja, tak lebih.
Tak ada rencana untuk menulis sebuah catatan sederhana nan mungil ini, tetiba teringat pemberitahuan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banggai Om Alex untuk hadir di kegiatan anjangsana sekaligus menyalurkan sedikit bantuan ke beberapa panti asuhan di Kota Luwuk. Pemberitahuan seperti notifikasi yang akan muncul pemberitahuan di waktu-waktu tertentu di hape.
Agenda silaturahmi di panti asuhan diagendakan Sabtu (7/2/2026), sepertinya menjadi agenda rutin saat jelang perayaan Hari Pers Nasional atau HPN di kabupaten bermotto ‘Momposaangu Tanga Mombulakon Tano’. Praktis, agenda kunjungan ini mulai berjalan beberapa tahun belakangan setelah PWI Banggai benar-benar ‘mengudara’.
HPN diperingati setiap tanggal 9 Februari. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari lahir PWI pada tahun 1946.
Tahun 2026, HPN sudah tahun ke 81 ini bertujuan untuk menghargai peran pers dalam menyuarakan kebenaran, menjaga demokrasi, serta memberikan informasi kepada masyarakat.
Tema utama HPN 2026 yang diusung adalah “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. Tema ini sengaja dipilih untuk menekankan pentingnya terciptanya ekosistem pers yang profesional dan berdaya.
HPN menjadi momen penting bagi para pewarta dan insan media di seantero nusantara merayakan sekaligus merenungi kiprahnya di kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pewarta atau bahkan media sekalipun senantiasa menghadapi tantangan yang seolah ‘abadi’, yaitu soal etika, independensi hingga objektivitas. Namun, saat ini muncul tantangan baru, ya namanyanya algoritma.
Algoritma berdasarkan penjelasan Meta AI adalah serangkaian instruksi yang terstruktur dan terdefinisi dengan baik untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai tujuan tertentu. Untuk lebih sederhananya, algoritma menjadi mesin pencetak uang bagi media berbasis online.
Algoritma dan mesin pencari sangat menentukan apa yang dilihat oleh pembaca atau pengguna gawai. Apa yang ramai di permukaan kehidupan sosial lalu mencuat ke media, baik media sosial hingga website pemberitaan.
Bahkan, berita atau informasi besar lagi benar sekalipun dapat pula menjadi tenggelam ketika tidak menarik bagi algoritma.
Nah, dari sinilah para pewarta yang mengelola langsung website berita mengalami dilema. Bagaimana mungkin pewarta tetap menjaga etika, menjaga integritas hingga kualitas berita, sedang di sisi lain, persaingan perhatian semakin kuat dan ketat.
Berbeda kasusnya dengan media berbasis cetak. Masih tetap mengandalkan ‘idealisme’ pembaca yang saban pagi menunggu di teras rumah menunggu koran cetakan diantarkan loper. Namun, kecanggihan teknologi yang menuntut kecepatan tak bisa lagi mengandalkan koran edisi cetak untuk sekadar mengetahui kejadian apa di hari sebelumnya.
Semuanya serba praktis. Kejadian hari ini, hanya dalam beberapa menit bahkan saat itu juga publik langsung mengetahuinya. Dengan kecepatan media sosial, semisal facebook, instagram dan jejaring sosial lainnya, informasi langsung update.
Jika koran cetak mengandalkan pengumpulan pundi-pundi kasnya dari langganan koran dan pengiklan, maka edisi online pun dengan sebutan algoritma.
Berapa banyak media yang tak pasti pendapatan hasil algoritmanya, toh masih tetap tersenyum lebar. Dan aman-aman saja isi dompetnya. Di sinilah pertaruhan idealismenya.
Pewarta sering bahkan serinkali dihadapkan pada dilema. Apakah akan menyajikan informasi akurat dan menyajikan informasi yang menarik untuk pembacanya. Beberapa media (mungkin) cenderung lebih fokus pada pemberitaan yang positif ketimbang informasi yang lebih seimbang dan akurat.
Namun, dampaknya bahwa berita yang disajikan menjadi tidak seimbang. Pewarta hanya terfokus pada hal-hal baik saja. Seolah sang narasumber atau instansinya menjadi paling benar di muka bumi. Nahasnya, informasi narasi kebenaran menjadi kabur dan pembaca pun mendapatkan sajian informasi tak akurat. Hak masyarakat terabaikan.
Pada gilirannya, kehilangan kepercayaan. Akibatnya dapat membuat masyarakat tidak terinformasi dengan baik. Sehinga, masyarakat bisa kesulitan membuat keputusan yang tepat.
Sejatinya, masalah serius ini menjadi refleksi sekaligus peringatan bahwa pers harus mampu membaca jalan yang berkelok ini. Bukan hanya sekadar mengikuti algoritma, tetapi tetaplah menjadi penuntun publik dalam hal kebenaran dengan informasi akurat, mendidik dan membangun.
Di tengah digitalisasi dan kompleksitas informasi, pers tetap menjadi pilar demokrasi yang tidak boleh tersesat di labirin teknologi. Tabe’
Tanah Babasal, 5/02/2026