Bangkai Cicak Ditemukan di Menu MBG Tolisu Banggai, Yayasan Akui Lalai Pengawasan

0

BANGGAI, OKENESIA.COM- Insiden mengejutkan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri Tolisu, Kecamatan Toili Jaya, akhirnya terkuak ke publik. Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 5 Februari 2026 itu baru mencuat setelah informasi dan dokumentasi kejadian beredar luas dan dikonfirmasi awak media kepada pihak sekolah.

Demikian informasi yang diterima Okenesia.com via pesan aplikasi WhatsApp, Minggu (22/2/2026).

Berdasarkan penelusuran, kejadian bermula saat pembagian menu MBG berupa nasi goreng dengan lauk telur kepada para siswa. Seorang siswa yang tengah menyantap hidangan tersebut mendapati adanya bangkai cicak di dalam telur yang telah dimasak. Ironisnya, sebagian makanan itu diketahui telah lebih dulu termakan sebelum keberadaan bangkai tersebut disadari.

Temuan tersebut langsung memicu kehebohan. Pihak sekolah mengamankan sisa makanan dan melakukan penanganan internal. Namun, informasi kejadian itu baru ramai diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir hingga akhirnya diklarifikasi secara terbuka.

Kepala SMA Negeri Tolisu, Bagus Alit Wisnawa, membenarkan peristiwa tersebut dan menyampaikan penyesalannya.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Apalagi program MBG adalah cita-cita mulia Bapak Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia, yang berharap anak-anak Indonesia bisa tumbuh sehat dan cerdas. Namun justru terjadi hal seperti ini,” ujarnya.

Dapur penyedia MBG untuk wilayah tersebut diketahui adalah Dapur MBG Singkoyo yang bermitra dengan Yayasan Hesed Harapan Baru. Beredarnya informasi ini memicu reaksi luas. Sejumlah penerima manfaat, termasuk siswa dan orang tua, kembali meragukan higienitas dan jaminan kesehatan makanan MBG.

Sekretaris Yayasan Hesed Harapan Baru, Panji Lamahung, saat dikonfirmasi mengaku baru mengetahui informasi tersebut setelah kejadian itu beredar. Ia menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi dan tidak menampik adanya kelalaian dalam proses pengawasan.

Ia menjelaskan bahwa secara mekanisme operasional, pengawasan teknis di dapur SPPG menjadi tanggung jawab Kepala SPPG (KA SPPG) selaku manajer operasional bersama timnya. Dalam prosedur yang berlaku, sebelum makanan dibagikan kepada siswa, pihak sekolah melalui PIC atau penanggung jawab seharusnya melakukan pengecekan ulang dan uji makanan.

Apabila ditemukan hal yang tidak wajar, kata dia, menu tersebut seharusnya segera dikoordinasikan dengan pihak SPPG untuk dilakukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penarikan distribusi.

Panji juga menegaskan bahwa yayasan telah menetapkan standar operasional prosedur (SOP) terkait kebersihan dan sterilisasi bahan makanan sejak tahap persiapan hingga pendistribusian. Struktur pengawasan di SPPG melibatkan Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, asisten lapangan (aslap), serta relawan yang memiliki koordinator masing-masing.

Meski demikian, ia menekankan bahwa dalam praktiknya, pengawasan harian di dapur sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kepala SPPG dan tim operasional di lapangan.

Hingga saat ini belum ada laporan gangguan kesehatan serius akibat insiden tersebut. Namun, kejadian ini menjadi sorotan tajam sekaligus evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG agar standar kebersihan dan pengawasan benar-benar diterapkan secara maksimal. (***)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!