JAKARTA, OKENESIA.COM- Penutupan Masjid Al-Aqsa yang telah berlangsung selama 19 hari memicu keprihatinan luas di kalangan umat Muslim dunia.
Penutupan ini bahkan diperkirakan akan terus berlanjut hingga Idulfitri, dalam kondisi yang dinilai sebagai pengabaian terhadap nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Masjid Al-Aqsa, yang merupakan salah satu situs suci umat Islam, kini tidak dapat diakses oleh jamaah.
Situasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Palestina.
Bersamaan dengan itu, kondisi di Jalur Gaza juga dilaporkan semakin memburuk. Blokade diperketat, perbatasan ditutup, serta akses masuk bantuan kemanusiaan dibatasi.
Dampaknya, warga sipil menghadapi kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Tidak hanya di Gaza, tekanan juga dirasakan oleh warga Palestina di Tepi Barat.
Pembatasan aktivitas dan mobilitas turut memperparah situasi kemanusiaan di kawasan tersebut.
Di tengah perhatian dunia yang saat ini terfokus pada berbagai isu global lainnya, kondisi di Palestina dinilai kurang mendapatkan sorotan yang memadai. Padahal, berbagai pelanggaran yang terjadi terus berlangsung tanpa henti.
Sejumlah pihak menilai bahwa situasi ini membutuhkan sikap tegas dari komunitas internasional.
Penutupan tempat ibadah, pembatasan bantuan kemanusiaan, serta meningkatnya penderitaan warga sipil dianggap tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.
Seruan pun menguat agar dunia internasional kembali memberikan perhatian serius terhadap kondisi di Palestina serta mendorong upaya penghentian berbagai bentuk pelanggaran yang terjadi. (top/*)