Perempuan Berhijab Jingga di Tanah Haram (Bagian I)
Hilma, gadis belia baru saja kembali dari sekolah di kampung halamannya. Guratan wajahnya riang. Sesekali ia tersenyum sendiri, sumringah. Maklum, hari itu pengumuman kelulusan sekolah dasar. Yap, akan ada fase baru di kehidupan berikutnya.
Sekolah dasar sudah ditamatkan, setelah enam tahun belajar menghitung hingga membaca. Waktunya bersekolah di jenjang berikutnya. Di sekolah yang ada teman-temannya sedari sekolah dasar. Menikmati keceriaan sewaktu berseragam putih merah sembari bermain bersama rekan-rekan sebayanya.
Setibanya di rumah, sang ayah dan bunda Hilma memeluk erat. Anak gadis mereka yang dibesarkan penuh cinta mulai beranjak remaja. Demikian gumam ayah dan ibu Hilma. Sebagai rasa atas kesuksesan itu, sang ibunda menyiapkan makan siang spesial. Ayam jantan berukuran jumbo ditangkap sang ayah untuk dipotong. Hidangan istimewa di hari Istimewa. Dimasak kari.
Kebahagiaan meliputi rongga dada kedua orang tua Hilma. Giliran menatap masa depan. “Makan yang banyak nak,” perintah sang bunda kepada Hilma yang duduk di meja makan bersama ayah dan adik-adiknya.
“Mau lanjut sekolah di mana nak?,” tanya sang bunda sembari menyiapkan menu makanan di meja kayu berukuran 1,5 meter persegi.
“Di SMP dekat rumah saja ma, supaya sama teman-temanku SD ma,” jawab Hilma sekenanya.
Sang ayah langsung menimpali, “Kamu sekolah di kota saja,” jawaban ini seolah penegasan.
Sang ibunda tak membantah, apalagi Hilma. Diam seribu bahasa. Perkataan sang ayahanda bak titah raja yang wajib dipatuhi. Titik, tak ada bantahan. Seperti putusan hakim yang bersifat inkrah.
Ayah Hilma lalu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu, kerabat dekat di kota sempat mampir di rumah mereka. Dari percakapan renyah antara ayah Hilma dan keluarganya itu ketika berkunjung banyak cerita terungkap. Satu hal paling berkesan adalah promosi sekolah berbasis keagamaan di kota.
Keluarga ayah Hilma kebetulan bekerja di lingkungan sekolah berbasis keagamaan. Dari sinilah muncul ide. Dan ide itu menjadi niat untuk menyekolahkan Hilma di sebuah sekolah keagamaan. Kebetulan, tak hanya Hilma yang dikirim untuk bersekolah di kota, tapi salah satu keluarga batih Hilma pun akan disekolahkan di tempat yang sama.
Tibalah saatnya pengumuman rekrutmen. Ayah dan ibu Hilma berangkat ke kota. Tujuannya, satu. Mendaftarkan Hilma menjadi salah satu peserta didik. Itu saja.
Ibu Hilma sebetulnya tak kuasa melepas anak gadisnya bersekolah di kota. Dipaksa mandiri. Ia tahu betul, Hilma yang baru berusia 13 tahun adalah gadis kecilnya yang hanya bisa merengek ketika minta dibelikan sesuatu. Belum punya kemampuan untuk sekadar mencuci baju sendiri misalnya, bahkan untuk makan saja kadang minta disuapin.
Apatah lagi, ini kehendak sang ayah yang tak bisa dirubah. Jangankan merubah keputusan, untuk sekadar memprotes pun, bukanlah hal mudah.
Dua pekan setelah didaftarkan, Hilma pun berangkat menuju kota. Ayah dan bundanya menemani Hilma.
Hilma pun akhirnya memulai hidup baru, di asrama. Separuh kehidupannya menjadi mandiri. Mencuci, melipat pakaian, hingga urusan style pun diurus sendiri. Masak, tidak. Tersedia petugas memasak. Bersama peserta didik lainnya, ketika waktunya makan, akan bergegas ke dapur umum untuk mencicipi makanan yang telah disediakan.
Awalnya, cukup berat bagi Hilma. Ya, ia belum terbiasa mandiri. Jangankan mencuci, untuk sekadar memilih pakaian yang akan dikenakannya, Hilma masih butuh bantuan ibundanya. Kondisinya berubah, ia seolah dipaksa dengan keadaan untuk mandiri.
Enam bulan berselang, Hilma benar-benar mandiri. Ia tak lagi manja. Hari-harinya penuh keceriaan. Penuh semangat ketika menjalani setiap rangkaian di sekolahnya. Ketika naik kelas II, Hilma menulis di buku kecilnya sebuah cita-cita mulia.
Cita-cita Hilma, menjadi guru agama. Ia ingin menyebarkan kebaikan, membagikan ilmunya. Mengabdikan diri untuk khalayak.
Oleh teman-temannya, Hilma dipanggil dengan sebutan Ima. Parasnya yang ayu, perangainya yang sederhana, nada bicaranya rendah membuatnya dikenal dalam sekejap. Cara berjalannya menunduk, langkahnya teratur. Buku pelajaran selalu ia peluk di dadanya saat pergi atau pulang bersekolah yang hanya berjarak 30 meter lebih dari asrama.
Perangainya anggun dengan paras ayu, menjadikan Hilma seperti ‘bidadari’. Menjadi magnet. Ketika ia hadir di tengah rekan-rekannya, Ima menjadi penyejuk, seolah mendatangkan kedamaian hati. Menjadi hampa ketika dia menghilang.
Apalagi bagi kaum Adam. Rekan-rekan di sekolahnya menjadikannya sebagai bunga di taman yang menyemburkan wanginya. Tak sedikit dari kaum Adam yang menakar asa walau hanya sekadar disapa Hilma. Meskipun Hilma tak pernah terbersit sedikitpun bahwa dia adalah profil sempurna untuk ukuran seorang wanita. (bersambung)