Perempuan Berhijab Jingga di Tanah Haram (Bagian IV)

0

Kehidupan rumah tangga normal hanya berlangsung beberapa bulan saja. Bisa dibilang hanya sekejap, setelah Hilma diboyong suaminya di rumah kebun. Mereka memutuskan meninggalkan rumah orang tua Hilma.

Dari sinilah episode nestapa kehidupan Hilma dimulai. Perangai sang suami ketika tinggal di rumah orang tua Hilma, berubah 180 derajat. Rupanya, sang suami kerap bersikap kasar.

Saban hari, Hilma mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ia dipukuli dengan kursi kayu, dipukul dengan parang, lehernya dicekik. Tamparan bertubi-tubi menjadi santapan hariannya.

Hanya kesalahan kecil, ia selalu menerima perlakuan kasar. Telat menyuguhkan kopi saja, sang suami langsung bertindak kasar. Ia hanya diam. Tak melawan. Parahnya, ketika ia sedang hamil, perlakuan kasar tak juga jeda.

Bukan hanya tindakan kasar, ungkapan verbal pun tak luput menambah kepedihan hatinya. Hilma hanya menangis sembari meratapi nasibnya.

Ia berusaha menjadi pengabdi bagi suaminya. Hilma menjalani keseharian dengan mengerjakan pekerjaan yang sejatinya dikerjakan para pria. Ia memikul hasil panenan kakao dan jenis tanaman lainnya puluhan kilo. Ia membantu sang suami membuka lahan baru.

Hilma bukanlah tipikal wanita yang suka bersolek. Ia paham akan kondisi ekonomi rumah tangganya. Sebagai isteri bertanggungjawab, ia menjalani beragam pekerjaan demi memastikan asap dapurnya tetap mengepul.

Pagi dan siang misalnya. Ia menjalani profesinya sebagai penarik ojek bagi dua anak tetangganya antar jemput bersekolah. Lalu, melanjutkan tugasnya sebagai babu di rumah kerabatnya.

Ia bekerja di tengah teriknya mentari. Menjemur udang-udang kecil untuk dikeringkan. Dihampar merata di jemuran. Tak bisa ditinggalkan, harus dijaga. Saat awan menghitam, ia bergegas mengumpulkan, agar tak disirami air hujan.

Udang-udang kecil itu bukan miliknya. Ia hanya menjadi pekerja dengan asa mendapatkan lembaran uang demi keluarga tercintanya.

Antrean bahan bakar minyak hingga tengah malam di sentra pengisian bahan bakar umum. Tiga jeriken ia boyong di motor matic untuk dijual eceran. Ia kerjakan dengan penuh ketabahan. Tapi, usahanya sia-sia. Tak pernah dihargai oleh suaminya.

Hilma tak cerita kepada kedua orang tuanya terhadap kondisi yang dialami dari sang suami yang kerap bertindak kasar tanpa nurani. Orang tua Hilma berpikir, anak perempuannya bahagia. Nyatanya tidaklah demikian.

Meskipun Hilma tak menceritakan kisah yang dialaminya, tapi bangkai tetaplah bangkai. Tetap menyemburkan bau busuk walau disembunyikan dengan rapinya.

Setelah mengetahui kondisi sebenarnya,  sang ayahanda tak tega dan akhirnya memisahkan akad pernikahan mereka. Usia pernikahan mereka hanya berumur sekitar 10 tahun. Hilma menjalani statusnya sebagai janda di usianya yang masih terlalu muda. (bersambung)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!