Perempuan Berhijab Jingga di Tanah Haram (Bagian III)

0

Hilma kembali di kampung halamannya. Ia melanjutkan pendidikan di sekolah tak terpaut jauh dari rumahnya. Semangatnya tak pudar. Ia jalani dengan semangat yang sama untuk mengejar impiannya. Menjadi guru agama.

Saat kesehariannya dipenuhi keceriaan bersama rekan-rekan sebayanya, hati Hilma seperti dihantam batu besar. Menyesakkan dada.

“Ini kenapa?,” ungkapan Hilma membatin.

Ia bertanya-tanya dalam hati. Ungkapan sang ayahanda seolah badannya terjatuh dari ketinggian di dasar lumpur.

“Kamu harus menikah!,” tegas ayahanda tanpa memberi tahu alasan.

Hilma tak punya kuasa untuk sekadar bicara, apalagi membantah. Ia tahu betul perangai sang ayah yang tidak kenal kompromi dan tak menerima alasan pembenar.

Cita-citanya buyar. Semangatnya mengejar impian pupus sudah. Batinnya bergolak, kondisi perasaan dan hatinya menjadi tidak tenang, diliputi emosi yang kuat.

Hilma adalah bunga di taman impian. Sebagai bunga, warnanya beragam. Ada yang merah, putih, kuning dan ungu. Hilma menjadi bunga yang layu sebelum benar-benar berkembang. Sebelum menebarkan wanginya.

Kesedihan hati bagi Hilma, tak ada gunanya. Titah sang ayahanda untuk menikah, tetap akan dilaksanakan. Hilma harus menerima takdirnya, meskipun hatinya tak Ikhlas.

Hari-hari jelang pernikahan, di penghujung malam, Hilma tak dapat merebahkan tubuh mungilnya. Deraian air mata selalu terurai membanjiri pipi, membasahi hidung tirusnya.

Akhirnya hari yang tak dinantikannya, tiba. Pernikahan. Akad nikah berlangsung hikmat. Meskipun hatinya tak pernah menghendaki pernikahan dini. Hilma akhirnya duduk di kursi pelaminan, di sampingnya duduk sang suami dengan wajah berurai senyum.

Ungkapan pemandu acara yang menyebut sepasang suami istri yang duduk di kursi pelaminan seperti raja dan ratu seolah memekikkan telinga Hilma. Senyumnya terpaksa.

Ia tetap menyambut hangat uluran jabatan tangan dari para undangan pesta walimatul ursy.

“Bagaimana lagi, saya sudah menjadi milik suamiku,” gumam Hilma membatin.

Saban hari, Hilma melayani sang suami. Menyiapkan kopi hangat berikut makanan pagi untuk santapan sang suami, sebelum pergi ke kebun.

Hilma belajar memasak beragam jenis dari sang ibunda. Sebagai modal ‘memanjakan’ lidah sang suami.

Kehidupan rumah tangga baru Hilma dan sang suami, berjalan normal. Seperti biasa. (bersambung)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!