Perempuan Berhijab Jingga di Tanah Haram (Bagian V, tamat)
Hilma menjalani status jandanya selama empat tahun. Ia akhirnya menemukan pria yang dinilainya berbeda dengan perangai suami pertamanya.
“Insya Allah, ini terbaik,” gumam Hilma sembari menaruh harapan, suami keduanya ini tak mewarisi perangai suami pertamanya.
Aktivitas keseharian Hilma tak berbeda. Ia tetap menjalani pekerjaan beratnya. Membiayai kehidupan buah hatinya. Menyekolahkan hingga benar-benar tinggi, tak seperti dirinya yang tak mampu menamatkan hingga ke jenjang sekolah lanjutan tingkat atas.
Suami barunya rupanya tak berbeda jauh tabiatnya. Bahkan, lebih parah. Menyakiti fisik hingga batinnya kerap juga dialaminya. Perkataan verbal yang kasar pun selalu ditujukan padanya. Seolah-olah ia benar-benar hina dan tak punya harga diri.
Kehidupan bersama suami keduanya hanya berselang dua tahun. Ia pun berpisah untuk kali kedua. Ia merasa, tak ada laki-laki yang tulus, Ikhlas mencintainya. Dia berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anaknya. Bahkan, Hilma tak memikirkan dirinya sendiri.
Seorang kerabatnya yang bekerja di luar negeri, menawari Hilma menjadi Tenaga Kerja Wanita. Ia tak perlu berpikir lama. Hilma menyetujuinya. Jenis pekerjaannya, sama seperti yang dijalaninya di kampung.
“Ah, kalau hanya pekerjaan bersih-bersih rumah, biasa itu,” jawab Hilma kepada kerabat yang menawari pekerjaan itu.
Alasan mendasar Hilma memilih tawaran pekerjaan itu, untuk menghilangkan ingatan atas seluruh rasa, disakiti badannya, disakiti batin jiwanya. Sekaligus memastikan kebutuhan anak-anaknya tetap tercukupi. Ia mengibaratkan, sekali dayung, dua tiga pulau terlewati.
Beberapa bulan di tanah nun jauh di sana, ingatan atas perlakuan kasar rupanya tak benar-benar redup. Hilma sering menangis dalam keheningan. Namun, ia selalu membumbungkan asa, bahwa hidup harus tetap berjalan. Ada anak-anaknya yang berharap kiriman bulanan.
Pekerjaannya di negeri orang memang tak mudah. Ia bisa bekerja hingga delapan jam sehari. Ia berpindah dari rumah satu ke rumah lainnya. Bersih-bersih berjam-jam di rumah orang berada.
Ia tak mengeluh. “Pekerjaan mudah ini, di kampung jauh lebih parah,” ucapnya dalam hati setiap menemui pekerjaan bersih-bersih.
Salah satu teman seprofesinya, Hilma menceritakan kisah kepedihan hati. Teman Hilma tak kuasa mendengarnya, air mata pun tak terbendung. “Kamu kuat Hilma. Tidak semua orang bisa sekuat kamu,” kata teman Hilma sembari meminta untuk tetap tegar.
Hilma mulai terhibur. Ia merasa tak lagi sendiri setelah ia tergabung di sebuah grup jejaring sosial para alumni. Di grup, cerita lama seolah terulang. Ia terhibur, tawa lepas mengingat kenangan ketika berseragam putih biru tua.
Salah satu kesalahan yang diakui Hilma adalah dirinya tidak terbuka. Ia menutup diri atas deritanya. Meskipun hanya sebatas berbagi kisah. Berbagi cerita dengan teman-teman karibnya saat bersekolah membuka mata Hilma. Ternyata, masih banyak yang berempati. Tak membiarkan hidup dijalani sendiri.
Di grup jejaring itu, Punuk, sang pengagum Hilma salah satu penghuninya.
“Assalamu alaikum,” tulisan chatt muncul di hape Punuk.
“Waalaikum salam,” jawab Punuk.
“Maaf siapa ini?,” tulis Punuk, hendak mengetahui siapa pengirimnya.
“Hilma,” begitu jawabannya.
Hati Punuk seperti berseri. Ingatan masa lalu seolah kembali berdengung. Padahal, baru sebatas komunikasi awal. Nama Hilma, tak lekang oleh waktu bagi Punuk.
Punuk mengakui, ia tetap merawat pandangan terhadap Hilma. Tak berubah sedari awal hingga saat ini.
Percakapan makin intens. Punuk akhirnya mengakui pengalamannya hingga menaruh hati sejak berusia remaja. Saat masih bersekolah, perasaan hati yang tak pernah terucap itu seolah tak dianggap. Ibaratnya, cinta bertepuk sebelah tangan.
Bahkan, kesedihan hati Punuk terucap saat mengetahui ‘bidadarinya’ itu telah berumah tangga. Tapi apalah daya, Hilma telah menjadi milik orang lain.
Punuk benar-benar terputus informasinya tentang Hilma. Bahkan kisah kelam Hilma, tak diketahui Punuk. Cinta Punuk tak pernah berubah. Punuk menyesal, tak hadir dalam kehidupan Hilma saat-saat sulit.
Mereka berdua berjanji, akan bersua setelah kembali ke tanah air. “Tunggu saya kak, saya pulang,” begitu pesan suara yang dikirimkan Hilma untuk Punuk.
Hati Punuk berseri, bahagia. Punuk tetap merawat ingatan, merawat perasaannya. Pengalamannya mencintai dalam diam kembali berdengung.
Komunikasi keduanya melalui pesan gawai di aplikasi jejaring sosial, makin intens. Materi bahasannya seperti mengulang masa lalu, saat mereka berusia remaja. Tentang Punuk yang tak berani mengucap perasaan hati, tak berani walau hanya sebatas berkirim surat.
Hilma pun demikian yang tak menyadari perhatian dari sang pengagum. Bahasan ringan juga tersaji. “Sudah makan?,” atau sebatas mengingatkan untuk beristrahat.
Meskipun Punuk sudah menyampaikan perasaan hatinya yang terawat sejak remaja, Hilma tidak serta merta merespon. Hilma yang ‘kenyang’ dengan pahit, getirnya hidup, menjadikannya pribadi kuat, berhati-hati mengambil keputusan. Jiwanya selalu mawas atas tipikal pria mana pun yang mendekatinya.
Komunikasi intens hanya berlangsung dua hari. Momen kebahagiaan tersaji, saling memberi perhatian, hanya sekejap.
“Kak, cinta itu tumbuh perlahan,” pesan chat Hilma ke gawai Punuk. Arah jarum jam menunjukkan pukul 03.15, pesan itu masuk. Punuk paham akan bahasa itu. Kalimat ambigu yang sejurus penolakan.
Punuk merasa bahagia sekaligus sedih. Kebahagiaan dan kesedihan menjadi satu. Bahagia telah menyampaikan seluruh isi hatinya, sedih menerima kenyataan bahwa cinta Punuk tak berbalas.
Punuk tak larut dalam kesedihan, perasaannya tetap semula. Mencintai Hilma adalah kekekalan. Ia hanya meyakini, cinta akan tetap abadi, walaupun takdir yang tak pasti. Bahkan, sempat terlintas dalam benak Punuk, andaikan Hilma adalah jodohnya, makai a tak perlu menuntut kepada Tuhannya untuk disediakan bidadari di hari kelak yang abadi. Sebab bagi Punuk, Hilma adalah bidadari dari surga yang terlahir sebagai manusia.
Meskipun menerima kenyataan pahit, Punuk tetaplah Punuk yang tegar. Ia berpesan kepada Hilma, jika kelak mendapatkan perlakuan kasar, baik fisik maupun verbal, dada Punuk selalu tersedia untuk disandari Hilma. “Kalau kau disakiti badan sama jiwamu, saya ada untukmu, Hilma,” demikian pesan terakhir Punuk ke Hilma.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah meninggal dunia Punuk, barusan,” demikian sebuah postingan di jejaring sosial milik akun rekan sejawat Punuk.
Punuk mengalami insiden tabrakan maut di sebuah jalanan di kota. Wajahnya bersimbah darah, ia masih bernapas saat warga yang melintas mencoba menyelamatkannya. Sayangnya, nyawa Punuk tak tertolong ketika diantar menuju rumah sakit terdekat akibat hantaman keras membentur tubuhnya.
Punuk pergi untuk selamanya. Membawa pergi juga rasa yang terawat. Hanya mencintai Hilma.
Informasi atas berpulangnya Punuk akhirnya singgah di grup alumni. Penghuni grup alumni antrean mengirimkan pesan turut berduka cita mendalam sembari mengirimkan doa.
Hilma terperanjat. Hatinya pun sedih. Tak terasa air matanya pun mengalir.
Tetiba, telepon genggam Hilma berdering. Di balik telepon, seseorang meminta Hilma untuk menunggu di depan sebuah rumah berlantai dua tempatnya bermukim.
Hilma akan kembali bekerja seperti biasa, menunggu jemputan. Hilma mengusap air matanya untuk sekadar menghilangkan jejak kesedihannya. Hilma mengenakan hijab jingga di pertigaan jalan di Kota Riyadh, Arab Saudi. ***