Selamat HUT Ke 66 Banggai, “Kembalikan Budaya Banggai”

0

OLEH; DR. Moh. Wirasto Tune, SE., M.Si

(Pemerhati Budaya)

Langit Teluk Lalong berubah menjadi panggung cahaya yang memukau saat Drone Show Spektakuler membuka rangkaian kemeriahan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kabupaten Banggai.

Ribuan masyarakat yang memadati Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Luwuk, menandai dimulainya malam ramah tamah sekaligus pembukaan agenda peringatan HUT Kabupaten Banggai, Senin (7/7/2026).

Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., didampingi Ketua TP-PKK Provinsi Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan, serta dihadiri jajaran Forkopimda, kepala daerah se-Sulawesi Tengah, tokoh masyarakat, dan ribuan warga yang memadati kawasan Teluk Lalong.

Perayaan yang sangat spektakuler, sangat meriah dan sangat menghibur. Namun sayang itu hanya berlangsung semalam dengan biaya puluhan, atau jutaan bahkan miliaran rupiah habis semalam.

Kami sebagai pemerhati proses pembangunan budaya yang terjadi di Kabupaten Banggai masih banyak yang perlu dibenahi.

Sebagai putra asli Saluan yang menginginkan budaya Banggai harus selalu hidup di setiap sudut kota, kecamatan bahkan pedesaan kini hampir tidak terlihat, nyaris punah ditelan zaman.

Sebagai contoh Bahasa Saluan nyaris tidak terdengar lagi di mana-mana. Padahal bahasa itu merupakan peninggalan budaya yang sangat mahal dari para leluhur yang melahirkan Tanah Banggai.

Menurut Gubernur, Kabupaten Banggai memiliki sejarah panjang sebagai daerah induk yang telah melahirkan dua daerah otonom, yakni Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Banggai Laut.

Ia mengibaratkan, Kabupaten Banggai sebagai seorang ibu yang telah membesarkan dan melahirkan generasi penerus, serta pemimpin di berbagai tingkatan.

“Kabupaten Banggai adalah ibu kita semua. Dari rahim daerah ini lahir Banggai Kepulauan dan Banggai Laut. Daerah ini juga telah melahirkan banyak pemimpin. Sudah sepantasnya kita memberikan penghormatan dan rasa syukur kepada ibu kita yang besok (8 Juli) genap berusia 66 tahun.”

Jadi sangat jelas begitu besar jasa para pendiri Kabupaten Banggai yang kita nikmati hingga saat ini.

Sejak bupati pertama 1 Juli 1960 hingga saat ini tanpa satu pun sosok yang berasal dari putra asli Saluan padahal sebagai suku terbesar di Kabupaten Banggai sudah seharusnya menjadi pemimpin di daerahnya sendiri. Mungkin ini penyebab hilangnya Bahasa IBU KABUPATEN BANGGAI.

Bersambung.
Kabai Mosia ……………

Comments
Loading...
error: Content is protected !!