Biofordem Pertamina DMF Tekan Biaya Pupuk, Panen Jagung Petani Kayowa Kian Maksimal

0

BANGGAI, OKENESIA.COM- Inovasi pupuk Biofordem melalui program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) mulai memberikan dampak bagi petani jagung di Desa Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai.

Program yang dikemas melalui Sekolah Lapang Biofordem tersebut menjadi salah satu agenda kunjungan media dalam rangkaian Media Visit Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) yang digelar di Desa Kayowa, Jumat (2/10/2026).

Salah satu kelompok penerima manfaat program tersebut adalah Kelompok Tani Mosaangu. Pemanfaatan lahan dengan penerapan Biofordem kini telah berkembang hingga sekitar 33 hektare dan tersebar di wilayah Kayowa Bawah dan sekitarnya.

Relation PT Pertamina EP DMF, Syair, menjelaskan Biofordem dikembangkan untuk membantu memperbaiki kualitas tanah, salah satunya melalui kandungan sulfur yang dibutuhkan tanah untuk mendukung produktivitas lahan.

Menurutnya, PEP DMF saat ini membina 26 petani melalui program tersebut. Para petani binaan diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menularkan pengetahuan dan praktik pertanian kepada petani lainnya.

“Kami membina 26 petani binaan untuk menebarkan virus-virus baik kepada petani lainnya,” jelas Syair.

Ia mengatakan, salah satu manfaat yang dirasakan petani adalah efisiensi biaya pemupukan. Jika menggunakan pupuk komersial, biaya yang dikeluarkan petani dapat mencapai sekitar Rp300 ribu per sak, sementara melalui inovasi Biofordem, petani memperoleh pupuk sulfur yang dikembangkan dalam program PEP DMF.

Seiring pelaksanaan program, luasan lahan petani binaan bahkan telah mencapai sekitar 33 hektare. PEP DMF juga terus mendorong petani menerapkan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari teknik penanaman, pengaturan jarak tanam hingga pemeliharaan tanaman.
“Petani sebelumnya belum memiliki formulasi untuk menghasilkan produksi panen yang maksimal, mulai dari teknik menanam, jarak tanam hingga edukasi berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Syair, peningkatan hasil panen akan berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani. Penerapan Biofordem juga disesuaikan dengan kondisi lahan di Desa Kayowa yang saat ini banyak dikembangkan untuk tanaman jagung.
“Pupuk Biofordem ini untuk memperbaiki tanah. Lahan percontohan seluas satu hektare bisa menghasilkan hingga enam ton. Biofordem ini sambil berjalan juga terus kami selidiki dan kembangkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mosaangu, Beni Irawan, mengaku banyak memperoleh pengetahuan baru sejak bergabung dalam program Sekolah Lapang Biofordem.

Sebelumnya, ia mengaku belum memahami teknik budidaya jagung yang benar, termasuk cara mengendalikan hama dan mengaplikasikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman.
“Dengan adanya sekolah lapang ini, kami mengerti cara mengatasinya. Sampai detik ini bisa dilihat, meskipun kemarau, tanaman jagung hasilnya tetap maksimal,” ujar Beni.

Ia mengatakan, bantuan Biofordem sangat membantu petani, terutama dalam menentukan takaran dan dosis pupuk yang tepat.

Menurutnya, penggunaan pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Jika dosis tidak tepat, hasil yang diperoleh juga tidak akan maksimal.
“Sebagai penerima manfaat pupuk Biofordem ini sangat membantu kami, terutama bagaimana cara mengaplikasikan dengan takaran dan dosis yang tepat. Sebab, jika tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman, pasti tidak maksimal,” katanya.

Beni juga merasakan adanya efisiensi biaya produksi. Sebelum mengikuti program tersebut, pengeluaran untuk pupuk cukup besar karena petani lebih banyak menggunakan pupuk kimia.

Dalam satu hektare, kata dia, petani sebelumnya dapat menggunakan sekitar delapan sak pupuk NPK dan delapan sak pupuk urea. Dengan dukungan Biofordem, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
“Dulunya pengeluaran cukup banyak. Saat ini terjadi efisiensi dana yang kami gunakan,” ujarnya.

Beni menyebut, dari hasil penjualan jagung, pendapatan yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp24 juta per hektare.
Sementara untuk biaya pupuk, penggunaan pupuk kimia dalam satu hektare dapat mencapai sekitar Rp2 juta. Setelah menggunakan Biofordem, biaya tersebut dapat ditekan hingga sekitar Rp400 ribu.

“Dengan adanya pupuk Biofordem, kami bisa melakukan efisiensi anggaran. Biasanya kami menggunakan pupuk kimia. Biofordem ini sangat menguntungkan bagi petani,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan PEP DMF melalui program kelompok tani dan Sekolah Lapang Biofordem yang memberikan edukasi secara berkelanjutan kepada petani.
“Keterlibatan PEP di kelompok tani dan sekolah lapang, kami diberikan edukasi. Terima kasih kepada manajemen Pertamina DMF yang telah mengajarkan kami bagaimana cara menghasilkan produksi maksimal,” tuturnya.

Program tersebut menunjukkan bahwa pendampingan petani tidak hanya berfokus pada pemberian pupuk, tetapi juga peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani dalam mengelola lahan secara lebih tepat dan efisien.

Melalui penerapan Biofordem dan pendampingan Sekolah Lapang, PEP DMF mendorong petani Kayowa meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menekan biaya produksi, sehingga hasil pertanian dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. TOP

Comments
Loading...
error: Content is protected !!