Sulap Produk Samping Jadi Pupuk, Pertamina EP Donggi Matindok Raih Gold ISDA 2026

0

JAKARTA, OKENESIA.COM- Inovasi pengolahan produk samping industri hulu migas menjadi pupuk organik membawa PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) Zona 13 meraih penghargaan Gold Pilar Sosial SDGs 2 pada ajang Indonesian SDGs Award (ISDA) 2026.

Penghargaan tersebut diraih melalui program Sekolah Lapang Bioferdom dan diserahkan dalam ajang Penganugerahan Indonesian CSR Awards (ICA) dan Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2026 yang digelar Corporate Forum for CSR Development (CFCD) di Ballroom Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (29/9/2026).

Bioferdom merupakan inovasi pengolahan biosulfur slurry, produk samping dari proses pemurnian gas di Central Processing Plant Matindok, menjadi pupuk organik yang memiliki nilai guna melalui proses Bio Sulfur Recovery Unit (BSRU).

Program tersebut dikembangkan bersama Gapoktan Mosa’angu di Desa Kayowa, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan pendekatan sekolah lapang.

Melalui metode ini, pengetahuan dan keterampilan pengolahan pupuk tidak hanya diberikan secara teori, tetapi ditransfer langsung kepada petani agar dapat diproduksi dan dimanfaatkan secara mandiri.

Sekolah Lapang Bioferdom dirancang untuk menjawab sejumlah tantangan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2 atau Tanpa Kelaparan, terutama Target 2.3 yang mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan petani skala kecil.

Melalui penyediaan pupuk organik yang lebih terjangkau dan dapat diproduksi secara mandiri, program ini membantu kelompok tani menekan biaya produksi sekaligus memperkuat kapasitas usaha mereka.

Program tersebut juga berkontribusi terhadap penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi di tingkat masyarakat.

Ketua Panitia Penganugerahan ICA & ISDA 2026, Ir. Thendri Supriatno, mengatakan penilaian ISDA tahun ini menitikberatkan pada bukti dampak dan keberlanjutan program.

“Indonesian SDGs Award bukan sekadar ajang seremonial. Kami mendorong dunia usaha menghadirkan program yang terencana, terukur, dan benar-benar dirasakan masyarakat. Program-program terbaik tahun ini menunjukkan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan, bukan sekadar pelengkap,” ujarnya.

Menurutnya, proses penilaian dilakukan dengan mengedepankan objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.

Penilaian melibatkan dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi, serta perwakilan kementerian dan lembaga.

Manager Pertamina EP Donggi Matindok Field, Moh. Sidik Asngari, mengatakan penghargaan tersebut semakin memperkuat komitmen perusahaan untuk menyelaraskan kegiatan operasi hulu migas dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Bioferdom lahir dari keyakinan bahwa tidak ada yang benar-benar terbuang dari sebuah proses produksi. Produk samping pemurnian yang selama ini belum bisa dimanfaatkan sebagai produk turunan, kami ubah menjadi pupuk organik yang menghidupi lahan petani,” kata Sidik.

Menurutnya, pendekatan sekolah lapang menjadi bagian penting karena masyarakat tidak hanya menerima manfaat, tetapi juga mendapatkan pengetahuan untuk mengembangkan program secara mandiri.

“Melalui Sekolah Lapang, pengetahuan itu kami serahkan sepenuhnya kepada masyarakat agar mereka mampu memproduksi, menggunakan, dan mengembangkannya secara mandiri,” ujarnya.

Sidik menambahkan, Pertamina ingin memastikan kehadirannya di Kabupaten Banggai memberikan manfaat yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Kami ingin memastikan kehadiran Pertamina di Banggai memberi manfaat yang bertahan lebih lama dari usia operasi lapangan. Ketika petani Desa Kayowa mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, dan menjaga kesuburan tanah, di situlah tujuan pembangunan berkelanjutan benar-benar bekerja. Penghargaan ini milik mereka yang setiap hari turun ke lahan,” katanya.

Sr. Officer Communication Relations & CID Pertamina EP Donggi Matindok Field Zona 13, Ade Barkah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan program tersebut.
“Bioferdom tidak pernah menjadi kerja satu pihak,” ujar Ade.

Ia mengapresiasi masyarakat, khususnya Ketua Kelompok Tani Benny Irawan bersama kelompok tani yang bersedia membuka lahan dan mencoba inovasi tersebut.

Apresiasi juga disampaikan kepada Kepala Desa Kayowa Mohammad Ali Daeng Marowa beserta jajaran Pemerintah Desa, serta Bupati Banggai Amirudin dan jajaran Pemerintah Kabupaten Banggai atas dukungan terhadap pengembangan inovasi Bioferdom.

Sejak dijalankan, Sekolah Lapang Bioferdom telah melibatkan 26 petani dari 10 kelompok tani. Program tersebut memiliki kapasitas produksi pupuk organik lebih dari 60 ton per tahun, sekaligus mampu mendorong penghematan biaya produksi pertanian hingga 54 persen.

Program ini dikembangkan melalui peta jalan selama empat tahun yang diarahkan untuk mencapai kemandirian penuh kelompok penerima manfaat.
Ke depan,

Pertamina EP Donggi Matindok Field berkomitmen memperluas penerapan program ke desa-desa lain di wilayah operasi.

Replikasi tersebut juga akan diperkuat melalui sinergi dengan pemerintah daerah dalam mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Banggai.

Penghargaan Gold ISDA 2026 menjadi pengakuan atas upaya mengubah produk samping proses produksi menjadi sumber manfaat baru bagi masyarakat, sekaligus mendorong petani agar semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pupuk dan meningkatkan efisiensi usaha pertanian. TOP/*

Comments
Loading...
error: Content is protected !!