JAKARTA, OKENESIA.COM- Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi global. Sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia melalui jalur laut melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.
Jika jalur ini ditutup, maka dampaknya diperkirakan akan mengguncang pasokan minyak dunia, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia.
Berdasarkan data lembaga energi Amerika Serikat, sekitar 14,22 juta barel minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz.
Minyak tersebut sebagian besar berasal dari negara-negara produsen di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Iran, Kuwait, dan Qatar.
Arab Saudi menjadi pemasok terbesar dengan sekitar 5,29 juta barel per hari atau sekitar 37,2 persen dari total aliran minyak melalui jalur tersebut. Disusul Irak sekitar 3,24 juta barel per hari (22,8 persen), Uni Emirat Arab 1,83 juta barel per hari (12,9 persen), Iran 1,51 juta barel per hari (10,6 persen), serta Kuwait 1,43 juta barel per hari (10,1 persen).
Sementara Qatar menyumbang sekitar 0,63 juta barel per hari.
Di sisi tujuan ekspor, negara-negara Asia menjadi konsumen terbesar minyak yang melewati Selat Hormuz.
China menempati posisi pertama dengan sekitar 5,35 juta barel per hari atau 37,7 persen dari total distribusi. India berada di posisi kedua dengan sekitar 2,09 juta barel per hari (14,7 persen).
Selain itu, sejumlah negara Asia lainnya juga sangat bergantung pada jalur ini, termasuk Korea Selatan dengan sekitar 1,70 juta barel per hari (12 persen) serta Jepang sekitar 1,55 juta barel per hari (10,9 persen).
Secara keseluruhan, kawasan Asia menyerap sekitar 89 persen aliran minyak yang melewati Selat Hormuz.
Sementara itu, negara-negara di luar Asia seperti Eropa dan Amerika Serikat menerima porsi yang jauh lebih kecil, masing-masing sekitar 0,53 juta barel per hari (3,8 persen) dan 0,36 juta barel per hari (2,5 persen).
Jika Selat Hormuz ditutup, jalur alternatif pengiriman minyak sangat terbatas.
Saat ini hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki infrastruktur pipa yang memungkinkan sebagian pasokan minyak melewati jalur darat untuk menghindari selat tersebut.
Kondisi ini membuat potensi penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengganggu stabilitas energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk. (top/*)