BANGGAI, OKENESIA.COM- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banggai menggelar Pertemuan Penguatan Kolaborasi Pengendalian HIV/AIDS Tahun 2026 di Aula Penginapan Lambuku Syariah, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menekan penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Banggai. Pertemuan mengusung tema “Peran Penting Para Pemangku Kepentingan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Tokoh Pemuda dan Penyuluh Agama dalam rangka Pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Banggai”.
HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI per Juli 2024, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang telah ditemukan mencapai 351.378 jiwa dari estimasi 503.261 jiwa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 217.482 ODHA telah menjalani terapi antiretroviral (ART). Namun, capaian supresi viral load masih belum memenuhi target nasional sehingga diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian untuk mencapai target triple 95 pada 2030.
Di Provinsi Sulawesi Tengah, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sejak 2002 hingga September 2025 tercatat sebanyak 6.811 kasus, terdiri dari 5.123 kasus HIV dan 1.688 kasus AIDS. Kondisi tersebut menjadi dasar pentingnya peningkatan edukasi, deteksi dini, pendampingan pengobatan, serta pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di masyarakat.
Ketua Panitia Sosialisasi Penguatan dan Kolaborasi Pengendalian AIDS, Nurul Indah Dalillah, S.I.P., M.A., dalam laporannya menyampaikan bahwa Kabupaten Banggai menempati peringkat kedua tertinggi kasus HIV/AIDS di Sulawesi Tengah. Tercatat sebanyak 578 kasus HIV dan 373 kasus AIDS, dengan jumlah kematian mencapai 129 orang.
Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta penyuluh agama.
Bupati Banggai melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III Administrasi Umum Setda Banggai, Nur Djalal Amir, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Pertemuan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor guna menekan penyebaran HIV/AIDS secara komprehensif,” ujarnya.
Bupati Banggai menegaskan bahwa HIV/AIDS tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga ketahanan keluarga. Karena itu, pengendaliannya tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan, melainkan memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, pemerintah, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, serta para tokoh yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat harus mengambil peran dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana sosialisasi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun pengetahuan, kesadaran, dan sikap masyarakat yang tepat terhadap isu HIV/AIDS. TOP