2 Tahun Terkubur di Reruntuhan, Evakuasi Korban Pembantaian Keluarga Abu Syari’ah dan Al-Hasaynah Berakhir

0

JAKARTA, OKENESIA.COM- Proses evakuasi korban pembantaian terhadap keluarga Abu Syari’ah dan Al-Hasaynah di Lingkungan Al-Sabra, Gaza bagian selatan, akhirnya berakhir pada 1 Agustus 2026, setelah jasad para korban tertimbun di bawah reruntuhan selama lebih dari dua tahun.

Pembantaian yang terjadi pada 22 November 2023 itu disebut sebagai salah satu yang paling keji di Jalur Gaza. Serangan udara Israel menghantam satu blok permukiman secara beruntun hingga rata dengan tanah, menyebabkan ratusan warga sipil terkubur di bawah puing-puing bangunan.

Menurut data Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP), sebanyak 308 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Di antara korban terdapat 44 anak berusia di bawah 16 tahun, 37 perempuan, serta lebih dari 10 penyandang disabilitas.

Upaya evakuasi baru dapat dimulai pada 14 Juli 2026 setelah tim pertahanan sipil memperoleh akses ke lokasi. Namun, proses pencarian berlangsung dengan berbagai keterbatasan, termasuk minimnya peralatan berat yang tersedia. Tim penyelamat hanya memiliki satu alat berat untuk mengevakuasi reruntuhan.

Akibat kondisi tersebut, tim hanya mampu mengevakuasi sekitar sepertiga dari seluruh korban. Sebagian jenazah diperkirakan telah hancur akibat dahsyatnya ledakan dan suhu tinggi yang ditimbulkan dalam serangan udara.

Selama lebih dari dua tahun sebelumnya, tim ambulans dan Pertahanan Sipil dilaporkan tidak dapat menjangkau lokasi, sehingga para korban tetap tertimbun di bawah puing-puing.

Reruntuhan di Al-Sabra kini menjadi saksi bisu atas besarnya dampak kemanusiaan yang ditimbulkan tragedi tersebut. Pembantaian terhadap keluarga Abu Syari’ah dan Al-Hasaynah meninggalkan kehancuran luas, ratusan korban jiwa, serta duka yang masih membekas bagi warga Gaza hingga saat ini.

Data mengenai peristiwa ini disampaikan oleh Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP). TOP/*

Comments
Loading...
error: Content is protected !!