Mengenang Shaleh Al-Arouri, Pendiri Brigade Al-Qassam Yang Syahid Dibunuh Israel

0

JAKARTA, OKENESIA.COM- Selasa (2/1/2024) malam, Israel membunuh Shaleh Al-Arouri, Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam-Hamas. Shaleh dinyatakan syahid pada malam itu sesaat setelah militer Israel mengebom kantor Gerakan Hamas di Selatan Ibu Kota Lebanon, Beirut.

Lalu, siapakah Shaleh Al-Arouri?

Shaleh Muhammad Suleiman Al-Arouri, pria berusia 58 tahun lahir pada 19 Agustus 1966 adalah seorang pemimpin politik dan militer Palestina terkemuka. Informasi tentang Shaleh dikutip dari Gaza Now.

Ia adalah mantan Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam “Hamas”. Ia berkontribusi pada pendirian dari Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas di Tepi Barat, dan dianggap sebagai dalang dari persenjataan Brigade Al-Qassam.

Dia ditangkap dan menghabiskan sekitar 15 tahun di penjara penjajah, kemudian dideportasi dari Palestina. Dia adalah salah satu anggota tim perunding untuk menyelesaikan kesepakatan Wafa al-Ahrar, “kesepakatan Pertukaran Gilad Shalit.”

Ia menikah dan memiliki dua anak perempuan dan sekarang tinggal di Lebanon.

Tumbuh dewasa dan pendidikan:

Ia dilahirkan di Desa Aroura, Distrik Ramallah, pada tahun 1966. Ia mengenyam pendidikan dasar, menengah, dan menengah di Palestina. Ia memperoleh gelar BA dalam Syariah Islam dari Universitas Hebron.

Ia bergabung dengan Karya Islam sejak usia dini di kegiatan sekolah dan masjid, kemudian memimpin karya mahasiswa Islam (Blok Islam) di universitas tersebut dari tahun 1985 hingga penangkapannya pada tahun 1992 M.

Pembentukan Brigade Qassam:

Israel menganggapnya sebagai salah satu pendiri Brigade Asy-Syahid Izzuddin al-Qassam yang paling penting di Tepi Barat. Israel menuduhnya berada di balik penculikan tiga pemukim di Hebron, yang kemudian diikuti dengan tuduhan tersebut dengan menghancurkan rumahnya.

Ia mulai membentuk pasukan militer untuk gerakan di Tepi Barat pada tahun 1991-1992, yang berkontribusi pada peluncuran Brigade Al-Qassam di Tepi Barat pada tahun 1992.

Dia ditahan selama lebih dari 18 tahun di penjara Israel, dan ketika dia dibebaskan terakhir kali pada tahun 2010, dia dideportasi ke Suriah selama tiga tahun dan kemudian berangkat ke Turki ketika krisis Suriah memburuk. Berperan penting dalam menyelesaikan kesepakatan Shalit.

Dipenjara Israel:

Ia ditahan secara administratif pada tahun 1990-1991-1992 sampai tahun 2007 (15 tahun) atas tuduhan membentuk sel pertama Brigade Qassam di Tepi Barat. Kemudian ditangkap kembali tiga bulan setelah pembebasannya, dan mendekam selama jangka waktu tiga tahun hingga tahun 2010, ketika Mahkamah Agung Israel memutuskan untuk membebaskannya dan mendeportasinya ke luar Palestina.

Di luar tanah air:

Dia dideportasi ke Suriah dan menetap di sana selama tiga tahun. Dengan dimulainya krisis Suriah, dia berangkat ke Turki pada bulan Februari 2012 dan menetap di sana. Kemudian, beberapa tahun kemudian, dia meninggalkan Turki dan berpindah ke beberapa negara, termasuk Qatar dan Malaysia, dan akhirnya menetap di pinggiran selatan Lebanon.

Dalam kepemimpinan politik:

Ia terpilih menjadi anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam-Hamas dari tahun 2010 hingga Oktober 2017.

Pada tanggal 9 Oktober 2017, gerakan Hamas mengumumkan terpilihnya Al-Arouri sebagai Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam “Hamas,” mewakili Ismail Haniyeh, pada Dewan Syura gerakan tersebut yang baru-baru ini diadakan.

Dia adalah salah satu anggota tim perunding untuk menyelesaikan kesepakatan Wafa al-Ahrar, “kesepakatan Shalit.”

Penghancuran rumahnya:

Pada tanggal 20 Juni 2014, saat fajar pada hari Jumat, pasukan pendudukan Israel mulai menghancurkan rumahnya di daerah Aroura, barat laut Ramallah. Pada tengah malam itu, pasukan Israel menyerahkan keputusan kepada keluarga Al-Arouri untuk menghancurkan rumahnya.

Sejak awal kampanye, pasukan pendudukan mengancam akan menargetkan rumah para pemimpin Hamas di Tepi Barat sebagai tanggapan atas hilangnya 3 pemukim di Tepi Barat tujuh hari lalu.

Berbagai kalangan mengirimkan ucapan belasungkawa atas wafatnya sang pejuang Palestina.

Salah satunya dari Baitul Maqdis Institute yang berkedudukan di Indonesia. Direktur Baitul Maqdis Instute, Fahmi Salim bersama Eksekutif Direktur, Pizzaro Ghozali Idrus menyampaikan ucapan belasungkawa yang diterima Okenesia.com, Rabu (3/1/2024) malam ini.

“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan rahmat dan memberinya surga. Semoga dia menemukan keadilan dengan Yang Maha Adil,” demikian ungkapan belasungkawa Baitul Maqdis Institute.

Selain mengirimkan ungkapan belasungkawa, Baitul Maqdis Institute menegaskan tak pernah berhenti mendoakan kemerdekaan bangsa Palestina dari kekejaman penjajahan yang dilakukan oleh kediktatoran apartheid Zionis. (top/**)

 

Comments
Loading...