Mengupas Sosok sang Pemimpin Autentik

Dok. Institute for Democracy Education (IDE) Cover Anies Baswedan: Gagasan, Narasi, dan Karya Menjawab Tantangan Masa Depan.
0 115

Judul Buku    : Anies Baswedan: Gagasan, Narasi, dan Karya Menjawab Tantangan Masa Depan
Penulis         : Abdurrahman Syebubakar dan Smith Alhadar
Penerbit      : Institute for Democracy Education (IDE)
Cetakan     : Pertama, Mei 2022
Tebal         : 267 halaman
Peresensi  : Ferdiand Rahmadya*

 

TIDAK banyak yang mengenal Anies Baswedan sebagai seorang pengagum Bung Karno. Ia suatu ketika pernah menyampaikan melalui sebuah media seusai berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, “Bung Karno ini contoh pemimpin yang dibutuhkan (Indonesia) saat ini.”

Lanjutnya, “Bung Karno datang tidak menyelesaikan masalah satu-satu, Bung Karno itu menggerakkan seluruh rakyat untuk menyelesaikan masalah.” Anies juga menegaskan dia (Bung Karno) hibahkan semua hidupnya. Dia bahkan tidak ambil sedikit pun dari republik. “Saya ingin meniru apa yang dikerjakan Bung Karno.”

Berisi tulisan-tulisan kritis Abdurrahman Syebubakar dan Smith Alhadar yang pernah dipublikasikan di berbagai media online dan cetak, buku Anie Baswedan: Gagasan, Narasi, dan Karya ini menguraikan sosok Anies Baswedan sebagai pemimpin yang mampu menarasikan gagasan-gagasannya dengan sangat baik, kemudian mengaktualisasikannya dalam aksi dan karya yang diakui dan dirasakan hasilnya–dengan menumbuhkan harmoni dan menggerakkan solidaritas sosial pada seluruh warga sebagai agen pembangunan–seperti yang dilakukan Bung Karno.

Sebanyak 33 esai yang ditulis dalam rentang September 2020 hingga Maret 2022 itu merekam kelindan sorotan terhadap sosok Anies Baswedan, dinamika politik nasional, dan telaah kebutuhan bangsa bagi kepemimpinannya di masa depan yang disajikan dalam lima bagian berdasarkan isu dan relevansinya, khususnya terkait dengan gagasan, narasi, dan karya Anies Baswedan di DKI Jakarta.

“Apa yang kita kerjakan di Jakarta (selalu berkaitan dengan tiga hal), yaitu gagasan, narasi, dan karya. Setiap karya, di belakangnya ada narasi. Sebelum narasi, ada gagasan, tidak ada karya tanpa gagasan, tidak ada kebijakan tanpa gagasan.”

Anies Baswedan Calon Presiden RI 2024

Sistematika esai berdasarkan kategorisasi gagasan, narasi, dan karya tersebut sejalan dengan pembeda gaya kepemimpinan Anies yang dipraktikkannya di DKI Jakarta sebagaimana yang sering dikatakannya, “Apa yang kita kerjakan di Jakarta (selalu berkaitan dengan tiga hal), yaitu gagasan, narasi, dan karya. Setiap karya, di belakangnya ada narasi. Sebelum narasi, ada gagasan, tidak ada karya tanpa gagasan, tidak ada kebijakan tanpa gagasan.”

Bagian pertama buku ini, Tantangan Indonesia Saat ini dan ke Depan, membahas dinamika sosial, ekonomi, dan politik, khususnya demokrasi dan pembangunan manusia|yang saat ini berada pada situasi dan kondisi yang tidak mudah akibat berbagai faktor, terutama sistem politik ekstraktif- -hasil persilangan oligarki ekonomi dan oligarki politik yang bersenyawa dengan kepemimpinan serta relasi patron-klien antara negara dan kaum intelektual/ agamawan.

‘Untuk itu, reformulasi hubungan antara intelektual dan negara menjadi kebutuhan mendesak. Hubungan patron-klien dari dua anasir mahapenting ini harus digeser menuju pola hubungan yang kritis dalam bingkai demokrasi yang menjamin independensi dan integritas kaum intelektual’ (hlm 31).

Keadaan semakin rumit dengan adanya pandemi covid-19 yang melanda dunia sejak 2020. Alhasil, pembenahan sistem dan kelembagaan politik melalui aliansi strategis antara rakyat, termasuk kalangan menengah progresif, dan pemimpin, menjadi kebutuhan mendesak. Pemimpin yang dimaksud dalam hal ini ialah pemimpin autentik atau setidaknya figur dengan kualitas yang paling dekat dengan atribut tipe pemimpin ideal ini.

Tipe pemimpin autentik yang beririsan tebal dengan kapasitas intelektual, integritas moral, dan kinerja Anies Baswedan, dileng kapi karakternya sebagai solidarity maker dan administrator, dibahas di bagian kedua, Gagasan dan Narasi Anies Baswedan. Pemimpin autentik, seperti diuraikan dalam buku ini, bukan saja kompeten pada tataran teknis operasional, melainkan juga memiliki visi alternatif dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam pilihan kebijakan yang tepat. Selain itu, ia berbekal tekad dan keberanian politik yang kuat untuk membongkar sistem ekstraktif yang tidak berkeadilan dan melawan anasir-anasir jahat di balik sistem tersebut.

Selama memimpin DKI Jakarta, Anies tampil sebagai pemimpin yang telah selesai dengan dirinya kecuali obsesinya untuk mema- jukan bangsa. Obsesi tersebut utamanya ingin ia wujudkan melalui pemerataan pendidikan dan terwujudnya keadilan sosial bagi semua yang perlu direalisasikan pada skala nasional–juga menjadi agenda masyarakat global. Seperti yang kerap disampaikannya di berbagai kesempatan, “Persatuan hanya bisa dibangun dan dipertahankan bila ada keadilan. Tidak mungkin bisa membangun persatuan dalam ketimpangan. Keadilan jadi kata kunci yang harus dihadirkan.”

Bagian ketiga, Aksi dan Karya Anies Baswedan, memaparkan sejumlah bukti aktual berupa aksi dan karya pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, Mei 1969, itu dalam pembangunan manusia dan demokrasi serta pencapaian agenda global SDGs (sustainable development goals–agenda pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa dan diadopsi oleh seluruh anggotanya, termasuk Indonesia).

Anies melakukannya melalui gerakan kolaborasi–wujud harmoni dan solidaritas sosial–yang melibatkan berbagai kelompok paling rentan, mulai penyandang disabilitas, warga lansia, anakanak, perempuan, sampai kelompok petani dan peternak di daerah luar Jakarta, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, dan NTT. Anies menempatkan mereka sebagai subjek pelaku dan penerima manfaat sesuai semangat pembangunan manusia yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Fitnah dan manusia aneh

Sebagai figur pemimpin intelektual yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, sikap dan kebijakan Anies tidak selalu mudah dipahami publik, khususnya mereka yang terbiasa dengan narasi-narasi populis. Jagat politik nasional juga sesak dengan para pendengung bayaran (buzzerRp) yang senantiasa memuntahkan fitnah terhadap Anies untuk memperburuk pemahaman publik. Anies, secara jahat, sering diserang etnisitasnya lewat berbagai narasi anti-Arab oleh mereka yang justru biasanya mengeklaim sebagai kelompok pluralis dan anti- SARA. Bagian keempat, Seputar Fitnah Politik terhadap Anies Baswedan, membedah praktik-praktik politik ‘beracun’ itu mencakup kaitannya dengan politik uang dan lebih jauh tentang bias narasi politik identitas sebagai residu Pilgub DKI Jakarta 2017.

Persatuan hanya bisa dibangun dan dipertahankan bila ada keadilan. Tidak mungkin bisa membangun persatuan dalam ketimpangan. Keadilan jadi kata kunci yang harus dihadirkan

Anies Baswedan Calon Presiden RI 2024

‘Politik uang menjadi jalur utama persenyawaan sistem oligarki dengan pemimpin plastik yang bermuara pada ketidakadilan. Pada gilirannya, ketidakadilan memperparah penderitaan dan ketersisihan (sebagian) rakyat yang kemudian memicu ketegangan politik identitas’ (hlm 141).

Di bagian kelima, Menuju Pilpres 2024, penulis mengajak pembaca untuk menyelami selukbeluk langkah dan strategi yang seimbang antara realisme politik (popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas) dan idealisme politik (kebutuhan dan kredibilitas politik) untuk dapat memilah dan memilih pemimpin yang berkualitas pada Pilpres 2024.

Di tengah berbagai tantangan yang ada dan defisit karakter intelektual, karakter moral, dan karakter kinerja para elite politik saat ini, penulis menyampaikan argumentasi-argumentasi kenapa sosok ‘pemimpin autentik’–satu dari empat tipe pemimpin politik yang diuraikan mendalam di bagian ini–dibutuhkan untuk memimpin Indonesia ke depan. Bagaimana pula Anies yang disebut penulis sebagai ‘manusia aneh’ memenuhi kualifi kasi pemimpin tersebut.

Tentang buku tersebut, tokoh intelektual Azyumardi Azra menilai kehadirannya tepat waktu dalam mengisi kekosongan literatur terkini tentang Anies Baswedan. Karya ini cukup padu dan komprehensif membahas sosok Anies Baswedan dalam menaiki dan me nempuh karir politik, kehidupan sosial, budaya, dan agama yang penuh gejolak di Jakarta yang terkait pula dengan dinamika politik nasional dan kepemimpinannya untuk Indonesia ke depan, seperti dikutip dari sampul belakang buku.

Buku ini merupakan buku yang rasanya perlu Anda baca selaku pemerhati kemaslahatan bangsa. Kolabo rasi Abdurrahman Syebubakar, seorang intelektual ekonomi politik dan praktisi penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial, dan Smith Alhadar, kolumnis senior politik Timur Tengah, memberikan paduan kedalaman perspektif di berbagai isu. Umpa ma pada tulisan tentang pembangunan manusia dan demokrasi di DKI Jakarta selama dipimpin Anies dan kepemimpinan Anies dalam konteks hubungan internasional. Masih banyak lagi isu dan tema inspiratif yang dibahas dalam buku ini meliputi pencapaian agenda global SDGs, gerakan kolaborasi, kemitraan pemerintah provinsi dan lembaga fi lantropis, pembangunan kota yang ramah disabilitas, pembangunan inklusif yang memberdayakan komunitaskomunitas agama yang berbeda-beda, dan lainnya.

Disajikan dengan perpaduan gaya penyampaian yang argumentatif, tajam, serta kaya data dan fakta, para penulis memprovokasi benak pembaca agar kritis dan objektif menggali serta memahami substansi gagasan, narasi, dan karya dari fi gur sentral yang dibahas dalam buku ini–Anies Rasyid Baswedan–lalu secara sadar membuat sikap dan keputusan politik.

*Penulis adalah lulusan program S-2 di jurusan kesejahteraan sosial FISIP UI dan saat ini berkecimpung di bidang monitoring dan evaluasi.

Source Media Indonesia
Comments
Loading...