Jelang Ramadan, Pembantaian Warga Gaza Masih Berlanjut

0

JAKARTA, OKENESIA.COM- Bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari. Bulan penuh keberkahan yang ditunggu-tunggu umat muslim sedunia diharapkan dijalani dengan penuh ketenangan. Namun, tidak bagi warga Jalur Gaza, Palestina. Pembantaian demi pembantaian hingga kini masih terus berlangsung. Itu artinya, Ramadan kali ini, sepertinya bakal dialami warga Jalur Gaza dengan penuh kepedihan.

“Sudah 150 hari sejak perang genosida dan pembersihan etnis yang dilancarkan oleh tentara Pendudukan Israel terhadap rakyat Palestina yang tidak berdaya dan terhadap warga sipil, anak-anak dan perempuan. Militer Israel telah melakukan 2.,675 pembantaian,” demikian dilaporkan Juru Bicara Kantor Media Pemerintah Palestina, Ismail Abu Tsawabitha dalam rilis resminya, Senin (4/3/2024).

Lima bulan telah berlalu. Dan warga Jalur Gaza, Palestina akan memasuki bulan ke enam perang genosida. “Kita telah kehilangan 37.534 martir dan orang hilang. Di antaranya 30.534 martir telah tiba di rumah sakit, termasuk lebih dari 13.430 martir anak-anak, 8.900 syahid perempuan, dan 364 syahid tenaga medis, 48 ​​syahid pertahanan sipil, dan 132 syahid jurnalis,” kata Ismail.

Sekitar 7.000 orang masih hilang di bawah reruntuhan. Kru pemerintah tidak dapat memulihkan mereka, karena pemboman yang terus menerus dan kekurangan bahan bakar (untuk bahan bakar kendaraan. Korban 70 di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Dan lebih dari 71.920 orang terluka.

“Hari ini, ketika perang memasuki bulan ke enam, kami bersuara dan mengulangi peringatan kami untuk keseratus kalinya. Kami memperingatkan akan semakin parahnya kelaparan, terutama di Kegubernuran Gaza Utara dan Kegubernuran Gaza, setelah kehabisan tepung. dan beras serta habisnya biji-bijian dan pakan ternak yang terpaksa dimakan oleh warga negara,” kata Ismail.

Terhadap fakta demikian, Ismail menegaskan bahwa Pendudukan Israel dan sekutunya, khususnya Amerika Serikat dan komunitas internasional bertanggung jawab penuh atas kematian lebih dari 700,000 orang warga di dua provinsi tersebut, sebagai akibat dari kebijakan kelaparan dan tekanan terhadap warga sipil, anak-anak dan perempuan, dan kurangnya keamanan pangan, air dan obat-obatan, karena tentara pendudukan mencegah masuknya bantuan, bahan makanan dan pasokan ke mereka.

Bahkan militer Israel menembakkan peluru ke arah truk yang tengah antrean untuk mendapatkan makanan.

“Saya mencoba menuju ke sana, dan puluhan warga yang sedang mencari makanan untuk anak dan keluarganya terbunuh,” ungkap Ismail Abu Tsawabitha. (top/**)

Comments
Loading...