Filantropi Jurnalis

0

OLEH: SUTOPO ENTEDING

“Terima kasih Pak,” ucap lirih pria paruh baya di sebuah halte di ruas jalan Kota Luwuk sesaat menerima selembar uang kertas. Pakaiannya lusuh, badannya ringkih seperti (maaf) tak terurus. Kerutan di wajahnya cukuplah menggambarkan keseharian hidupnya. Ia lalu beranjak pergi sembari mengulang ucapan yang sama dengan badan membungkuk pertanda penghormatan.

Saya sengaja mengawali tulisan ini dengan sebuah fakta sosial yang terkadang luput dari pandangan. Fenomena ini kerap muncul ketika melihat realitas di luar jendela. Mereka yang berjalan lebih lambat karena beban hidup, mereka yang tersenyum tipis di tengah keterbatasan.

Sedikit fakta itu menunjukkan bahwa ada orang yang hidupnya berada di bawah standar normal. Fakta sosial demikian memang bukan hal baru. Bahkan, bisa dibilang lazim. Namun, tak lazim bagi seorang jurnalis.

Akhir-akhir ini, kata filantropi bagi saya cukup familiar. Di tulisan sebelumnya, saya mencantumkan kata serupa di judul, yakni ‘Memacu Adrenalin Filantropi’. Dan di judul tulisan kecil lagi-lagi mungil ini, kata filantropi saya cantumkan kembali.

Pencarian informasi literasi di berbagai platform media sosial pun terfokus di kata kunci ‘filantropi’.

Sejatinya, sudah waktunya untuk rehat merebahkan badan. Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.25 Wita, Sabtu (9/5/2026). Sayangnya, ide untuk menuangkan tulisan catatan yang bisa dibilang kritik sosial bagi pewarta ini sulit untuk dilewatkan.

Ketika masih sebagai wartawan pemula, liputan human interest (minat insani) tak pernah terlewatkan. Saban hari, para pewarta diberi tugas untuk liputan fenomena sosial. Liputan itu seolah menjadi perekam ‘denyut nadi’ masyarakat. Ini soal simpati dan empati. Bahwa isu kemanusiaan harus mendapatkan tempat terbaik di halaman koran sebagai wujud mengejawantahkan nilai-nilai luhur ruh sebuah koran.

Liputan human interest berfokus pada kehidupan, emosi dan pengalaman nyata. Tujuannya jelas untuk menggugah perasaan, simpati, empati hingga memotivasi pembaca melakukan hal baik.

Ada pesan pula yang harus disampaikan kepada mereka para pemangku tahta bahwa ada nasib rakyatnya yang sedang tak baik-baik saja. Tulisan jurnalis menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tak terjamah.

Kini, tulisan human interest bagi pewarta bukan tak ada, tapi minim tampil ke permukaan. Bukan fenomena kehidupan sengkarut masyarakatnya yang benar-benar hilang seolah strata sosialnya berada di pusaran sejahtera, tapi simpati hingga empati yang mulai memudar di kalangan pewarta.

Nyaris, tak terjamah. Kalau pun terjamah, bisa jadi tulisan itu bersponsor. Mungkin saja, hanya sebatas personal branding atau branding sebuah perusahaan untuk meneguhkan citra seolah benar-benar peduli lalu dipamerkan dalam bentuk narasi berita. Buntutnya, jelas. Branding tercapai, lalu klaim kepedulian itu adalah fakta dan nyata.

Sebagai pewarta, saya merasakan ruh jurnalistik itu mulai bergeser. Istilahnya pergeseran orientasi. Sebelumnya dikenal sebagai penyambung suara rakyat dan penjaga kepentingan publik, kini terjebak dalam pusaran komersialisasi.

Seolah, nilai filantropi yang menjadi semangat original setiap manusia bukanlah sebuah keharusan. Kepedulian sosial, keberpihakan pada kemanusiaan dan semangat pengabdian nampaknya perlahan kian pudar warnanya.

Saat ini, tidaklah sedikit pemberitaan kerap mempertimbangkan nilai ekonomi ketimbang nilai manfaat kemanusiaan. Pendek kata, keuntungan finansial mendapatkan porsi besar dalam penyajian pemberitaan.

Parahnya, masalah yang mendera kaum kecil, ketimpangan sosial hingga penderitaan masyarakat sering tenggelam tanpa perhatian serius. Keberhasilan sebuah pemberitaan tak lagi semata pada dampak sosial sebagai patron utamanya, melainkan berhitung seberapa besar pundi-pundi rupiah yang bisa dihasilkan.

Padahal jika kita kembali ke muara asalnya bahwa pers dilahirkan bukan semata-mata kepentingan bisnis, tetapi jauh lebih dari itu, yakni tanggung jawab moral kepada khalayak. Tulisan pewarta membawa suara yang tak terdengar, mengawasi kekuasaan, serta membela kepentingan publik tanpa harus selalu menghitung nilai komersialnya.

Kritik ini bukan untuk menghakimi seluruh insan pers. Masih banyak jurnalis yang bekerja dengan integritas dan mempertahankan idealisme di tengah tekanan ekonomi media yang semakin berat. Namun, fenomena memudarnya semangat filantropi dalam jurnalistik tidak bisa dipungkiri.

Dan akhirnya, tulisan pewarta yang hanya tunduk pada orientasi rupiah, bukan hanya kehilangan kualitas, tapi marwah dan nurani juga ikutan menghilang. Pewarta tanpa kepekaan sosial, dapat dipastikan tak lagi mengabdi untuk publik. Tabe’

Tanah Babasalan, 9/5/’26’

Comments
Loading...
error: Content is protected !!