Syamsuddin, Lansia Penjual Tisu Yang Tetap Bekerja di Usia Senja
Usia senja tak membuat Syamsuddin berhenti berjuang. Di tengah kondisi fisiknya yang mulai ringkih, pria kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, tahun 1956 itu tetap berjualan tisu di emperan sebuah toko kosmetik di Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai.
OLEH: SUTOPO ENTEDING
Dengan kopiah hitam yang selalu melekat di kepalanya, Syamsuddin menyapa setiap pengunjung dengan senyum ramah. Di tangannya, ia menenteng kantong kresek. Setiap kresek berisi dua buah tisu yang ditawarkan kepada para calon pembeli.
“Rp15.000 nak,” ucapnya ramah kepada setiap pengunjung.
Syamsuddin mulai berjualan sejak pagi hingga petang. Terkadang seluruh dagangannya habis terjual, namun tak jarang masih ada yang tersisa hingga sore hari.
Satu kantong yang dijualnya berisi dua bungkus tisu dengan harga Rp15 ribu. Untuk membeli satu karton tisu, ia harus mengeluarkan modal sekitar Rp300 ribu. Dari satu karton tersebut, ia bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp50 ribu.
“Untungnya memang tipis, tapi alhamdulillah,” tuturnya saat ditemui, Rabu (24/6/2026).
Ia bersyukur, karena pemilik toko tempatnya berjualan tidak pernah melarang ataupun meminta imbalan untuk menempati lokasi tersebut.
Setiap hari, Syamsuddin diantar oleh anaknya ke lokasi berjualan. Meski demikian, ia mengaku sebenarnya sempat dilarang anak tertuanya untuk tetap bekerja.
“Sebenarnya saya dilarang jualan. Tapi saya minta, karena kalau di rumah terus jadinya sakit. Ini sekalian olahraga,” katanya.
Syamsuddin baru sekitar empat tahun menetap di Luwuk setelah diajak oleh anak sulungnya. Sebelumnya, ia tinggal di Palu sejak tahun 1974 setelah merantau dari kampung halamannya di Soppeng.
Selama tinggal di Palu, Syamsuddin berjualan hasil bumi di Pasar Inpres Palu. Ia kemudian sempat bekerja di sektor pertambangan di Morowali. Duka mendalam menimpanya ketika sang istri meninggal dunia pada 2023 saat dirinya masih bekerja di kawasan tambang tersebut.
Kini, meski anak sulungnya berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Syamsuddin memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya kepada anaknya.
Ia menyadari bahwa anak sulungnya telah memiliki keluarga dan tanggung jawab sendiri. Sementara itu, anak keduanya masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan anak bungsunya baru saja menamatkan pendidikan SMA.
Hasil berjualan tisu memang tidak seberapa. Namun, bagi Syamsuddin, pendapatan itu setidaknya dapat membantu membiayai kedua anaknya yang masih bergantung kepadanya. Meskipun sang kakak juga ikut membantu membiayai dua adiknya, tapi ia menyadari sang anak telah memiliki rumah tangga dengan porsi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.
Di usia senja, Syamsuddin membuktikan bahwa semangat bekerja dan kemandirian tetap dapat dijaga, meski di tengah berbagai keterbatasan. ***