OLEH: SUTOPO ENTEDING
Arah jarum jam menunjukkan tepat pukul 12.48 Wita, matahari menggantung tanpa ampun di langit Kota Luwuk, Selasa (30/6/2026).
Aspal di perempatan lampu lalu lintas Kelurahan Karaton memantulkan hawa panas yang membuat siapa pun ingin segera mencari tempat berteduh.
Namun, di sudut jalan itu, seorang anak perempuan justru tertidur lelap.
Tubuh mungilnya bersandar pada bodi sebuah mobil berpelat merah DN 1214 C.
Sebuah karung putih berisi plastik bekas menjadi bantal seadanya. Pakaiannya lusuh, kedua kakinya telanjang menyentuh trotoar yang panas. Sesekali deru kendaraan membelah keheningan, tetapi gadis kecil itu tetap terlelap, seolah lelah telah mengalahkan bisingnya jalan raya.
Namanya Putri.
Usianya masih belia. Ia mengaku masih duduk di kelas IV sekolah dasar. Putri adalah satu dari empat bersaudara.
Libur sekolah yang biasanya dipenuhi tawa dan permainan, baginya menjadi waktu untuk bekerja.
Sedari pagi ia berkeliling mencari botol dan plastik bekas di tempat-tempat sampah. Barang-barang yang bagi sebagian orang dianggap tak bernilai itu ia kumpulkan dalam karung putih, lalu dijual kepada pengepul.
Nilainya memang tak seberapa, tetapi cukup berarti bagi keluarganya.
Di balik langkah kecilnya, tersimpan kisah tentang keluarga sederhana. Dari pengakuan Putri, ayahandanya bekerja sebagai tukang parkir, sementara ibundanya mengurus adiknya yang masih bayi.
Penghasilan yang terbatas membuat Putri memilih ikut berjuang. “Bukan disuruh orang tua,” tuturnya pelan.
Ia mengatakan, keinginan memungut plastik datang dari dirinya sendiri. Ia hanya ingin membantu mengurangi beban yang dipikul ayah dan ibunya.
Di persimpangan itu, lampu lalu lintas berganti warna tanpa henti. Kendaraan datang dan pergi. Banyak mata memandang sekilas, lalu berlalu.
Ada yang mungkin iba, ada pula yang menganggap pemandangan itu sebagai bagian biasa dari hiruk pikuk kota.
Sesekali, ada pengendara yang membuka jendela kendaraan, mengulurkan beberapa lembar uang kepada Putri.
Ia menerimanya dengan sopan. Namun, ia tak pernah mengejar kendaraan, tak pernah menjulurkan tangan meminta belas kasihan.
Yang ia bawa hanyalah karung putih berisi plastik bekas hasil kerja yang menurutnya lebih bermartabat daripada sekadar meminta.
Pemandangan itu menyisakan pertanyaan bagi siapa saja yang melintas. Mengapa seorang anak yang seharusnya menikmati masa liburan justru menghabiskan waktunya memungut sampah di bawah terik matahari?
Jawabannya mungkin sederhana: karena tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama.
Di tengah panas yang membakar siang Kota Luwuk, Putri sedang mengajarkan arti keteguhan. Bahwa di balik tubuh kecilnya, tersimpan tekad besar untuk membantu keluarga.
Bahwa di balik karung putih yang lusuh, masih ada harapan yang ia bawa pulang setiap hari.
Barangkali, bagi sebagian orang, plastik-plastik bekas itu hanyalah sampah. Namun bagi Putri, setiap lembar yang ia pungut adalah secuil harapan agar dapur keluarganya tetap mengepul dan masa depannya tetap memiliki peluang untuk diperjuangkan. ***