Putra Abdullah Azzam Nilai Iran Punya Keunggulan Produksi Rudal dalam Konflik dengan AS & Israel

0

JAKARTA, OKENESIA.COM- Sebuah analisis yang disampaikan oleh Hudzaifah Abdullah Azzam, putra dari tokoh jihad internasional Abdullah Azzam, menyoroti dugaan kelemahan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat serta kemampuan produksi rudal Iran dalam dinamika konflik Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Hudzaifah menyebut terdapat “celah besar” dalam sistem rudal pencegat milik Amerika Serikat serta kesalahan besar dalam memperkirakan jumlah rudal yang dimiliki Iran.

Ia mengklaim bahwa Iran berhasil menipu para pemimpin Barat dan Israel dengan membuat mereka percaya bahwa Teheran merupakan target yang mudah dikalahkan dalam perang singkat.

Menurutnya, langkah tersebut membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Presiden Donald Trump terdorong masuk ke dalam konflik yang diperkirakan akan selesai dalam hitungan hari.

Namun dalam pandangannya, situasi di lapangan justru berbeda. Ia menyebut Amerika Serikat dan Israel tidak siap menghadapi perang berkepanjangan yang menguras sumber daya.
“Iran mampu mengejutkan mereka dengan kemampuan yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Kini pangkalan, kota, dan kepentingan mereka menjadi lebih terbuka terhadap serangan rudal,” tulis Hudzaifah dalam analisisnya.

Ia juga menilai intensitas serangan rudal Iran menjadi salah satu alasan utama mengapa Israel berupaya menghentikan konflik secepat mungkin.
Dalam pernyataan tersebut, Hudzaifah turut menyinggung pernyataan Menteri Pertahanan Israel saat itu, Yoav Gallant.

Ia menyebut Gallant pernah mengungkapkan bahwa Iran mampu memproduksi sekitar 100 rudal setiap bulan, sementara Amerika Serikat hanya memproduksi sekitar tujuh rudal pencegat dalam periode yang sama.

Bila angka tersebut benar, menurut Hudzaifah, maka kemampuan produksi Iran akan jauh melampaui kapasitas produksi sistem pencegat Amerika.

Meski demikian, sejumlah analis militer internasional menilai berbagai klaim mengenai jumlah produksi rudal dan efektivitas sistem pertahanan masih menjadi perdebatan.

Data resmi terkait kemampuan militer negara-negara tersebut umumnya tidak sepenuhnya dipublikasikan, sehingga sulit diverifikasi secara independen.

Karena itu, sebagian pengamat menilai analisis semacam ini perlu dilihat sebagai pandangan pribadi yang belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. (top/*)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!