Menggantung Jagung Harapan

0

OLEH: SUTOPO ENTEDING

Pagi ini, Selasa (2/6/2026), cuaca di Luwuk dan sekitarnya, jalur menuju Bandara Syukuran Aminuddin Amir Bubung, terasa bersahabat. Matahari bersinar hangat tanpa terik yang menyengat.

Di sebuah pondok sederhana di tepi kebun, pasangan suami istri, Lapoasa (74) dan Waguna Sule (63), menikmati sarapan seadanya.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, puluhan ikat jagung manis tergantung rapi di pinggir jalan. Bersama beberapa butir telur ayam kampung, buah srikaya, delima, dan empat botol madu asli, jagung-jagung itu menjadi harapan yang mereka gantungkan setiap hari.

Sesekali, mata keduanya tertuju ke arah jalan. Ketika sebuah kendaraan melambat lalu menepi, senyum mereka mengembang. Ada harapan yang kembali menyala.

Bagi pasangan lanjut usia itu, setiap ikat jagung yang terjual bukan sekadar transaksi. Dari hasil penjualan itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi dan dapur tetap mengepul.

“Alhamdulillah, cukup untuk kehidupan sehari-hari,” tutur Lapoasa.

Lapoasa bukan petani kemarin sore. Sejak tahun 1985, ia telah membuka lahan dan menggantungkan hidup dari bertani. Saat itu, kawasan tempatnya berkebun masih sepi dan belum seramai sekarang.

Perjalanan hidupnya berpindah-pindah mengikuti harapan yang tumbuh dari tanah. Tahun 1992 ia sempat menetap di Buon selama enam tahun untuk menanam kelapa di lahan miliknya sendiri.

Kemudian pada 1997, ia mencoba peruntungan di kawasan Banpres 3, Luwuk Timur, dengan menanam kakao. Namun serangan hama membuat hasil panennya tidak sesuai harapan.

Ia pun meninggalkan lahan tersebut dan kembali ke Tanjung Tuwis pada tahun 2000.

Tempat yang kini menjadi lokasi jualannya dikenal masyarakat sebagai Kilo 10. Kawasan itu, menurut ingatannya, dahulu masih masuk wilayah Desa Bubung dan lingkungan III Maahas pada era 1990-an.

Lapoasa bahkan mengaku menjadi salah satu pelopor pemekaran wilayah yang kemudian melahirkan Kelurahan Tanjung Tuwis pada tahun 2008.

Di usia senjanya, Lapoasa masih mengelola lahan yang cukup luas. Ia memiliki dua hektare lahan sendiri dan meminjam empat hektare milik orang lain. Total enam hektare lahan ditanami berbagai komoditas seperti jagung, srikaya, delima, dan kelapa.
Namun perjalanan bertani tidak selalu berjalan mulus.
Lebih dari 300 pohon kelapa yang pernah ditanamnya habis dilalap kebakaran tanpa tersisa. Kerugian itu menjadi salah satu ujian terberat yang pernah ia hadapi.

Meski demikian, ia tidak menyerah.
Di antara berbagai tanaman yang pernah dicoba, jagung manis menjadi komoditas yang paling menjanjikan.

Dua hektare lahannya kini ditanami jagung manis yang bisa dipanen pada usia sekitar dua bulan lima hari.

Menurutnya, satu hektare lahan membutuhkan sekitar empat liter benih. Harga benih berkisar antara Rp115 ribu hingga Rp125 ribu per bungkus. Empat bungkus menghasilkan 1 liter bibit. Dalam sehektare, ia membutuhkan 15 bungkus benih jagung.

Jika hasil panen baik, keuntungan bersih bisa mencapai sekitar Rp1 juta per bungkus benih setelah dikurangi biaya operasional dan pengendalian gulma.

“Kalau jagung biasa kurang berkembang dan harganya murah. Jagung manis lebih bagus hasilnya,” katanya.

Jagung manis ukuran besar dijual empat tongkol seharga Rp10 ribu, sedangkan ukuran kecil lima tongkol seharga Rp10 ribu.

Bagi Lapoasa, bertani bukan hanya soal menanam dan memanen. Ada pengalaman puluhan tahun yang mengajarkannya cara membaca musim dan menghitung waktu.

Ia menanam secara bertahap agar panen dan penjualan tidak terputus. Saat satu lahan selesai dipanen, lahan lain sudah siap menyusul.

Karena itu, hampir setiap hari ada jagung yang bisa dijual di pondok kecilnya.
Dalam kondisi pembeli sepi, penjualan bisa mencapai sekitar Rp150 ribu per hari atau setara 15 ikat jagung. Namun ketika ramai, hasil penjualan dapat menyentuh Rp600 ribu sehari.

Menurutnya, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan petani jagung. Tanaman harus mendapat sinar matahari langsung tanpa terhalang pepohonan.

Rumput liar harus dibersihkan secara rutin agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
Satu hal yang selalu ia pegang teguh adalah tidak membakar kayu di area penanaman.

“Bisa bikin buah jagung jadi kerdil,” ujarnya.

Prinsip itu terbukti ampuh. Selama puluhan tahun mengelola lahan, ia mengaku hasil jagungnya selalu tumbuh baik.

Lapoasa dan Waguna telah membesarkan lima orang anak dari hasil bertani. Tiga di antaranya kini tinggal di luar daerah.
Dari kebun dan hasil jualan di pinggir jalan itu pula mereka menyekolahkan anak-anak hingga dewasa dan membiayai pernikahan mereka.

Tidak pernah hidup berlebihan, tetapi juga tidak pernah kekurangan.
Di usia yang tak lagi muda, keduanya masih setia menjaga pondok kecil di tepi jalan.

Menunggu kendaraan yang berhenti. Menyambut pembeli dengan senyum yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Di bawah langit Kilo 10 yang cerah, puluhan ikat jagung tergantung rapi.

Bagi sebagian orang, itu hanya hasil panen. Namun bagi Lapoasa dan Waguna, setiap tongkol jagung yang tergantung di sana adalah harapan yang terus mereka pelihara, satu demi satu, hingga senja datang. ***

Comments
Loading...
error: Content is protected !!