OLEH: SUTOPO ENTEDING
Lagu bertajuk ‘Pergilah dan Jangan Kembali’ menyasar ruang kamar. Alunan musik berikut syairnya milik Bria Klau seperti menyayat hati. Liriknya indah nan syahdu.
Notifikasi pesan WA grup berdenting, pelan-pelan chatt masuk. Ada pesan sekaligus bukti transferan disematkan. “Alhamdulillah, donasi terus bertambah untuk Pondok Pesantren Nurul Falah,” gumamku dalam hati.
Pondok Pesantren Nurul Falah didirikan almarhum Prof. Ishak Arep. Pondok ini terletak di Kawatuna, Palu, Sulteng. Letaknya hanya berkisar setengah kilometer dari rumah penduduk di Kawatuna dan Lasoani.
Ada rasa haru yang berulang kali hadir setiap kali notifikasi donasi masuk ke grup. Nominalnya mungkin berbeda-beda, tetapi perasaan yang ditinggalkannya sama: hangat, menenangkan, dan menghadirkan keyakinan bahwa ikatan persaudaraan yang tumbuh di pesantren ini masih terjaga dengan baik.
Jujur, saya tidak pernah membayangkan respons yang begitu tulus dari saudara-saudari alumni.
Gagasan donasi ini sebenarnya lahir dari sebuah percakapan sederhana bersama seorang sahabat.
Kami melihat grup WhatsApp alumni yang selama ini menjadi tempat bertemunya kembali kenangan lama. Di sana ada cerita tentang masa-masa mondok, kisah lucu yang tak pernah habis untuk dikenang, foto-foto lama yang mengundang senyum, dan berbagai cerita tentang perjalanan hidup masing-masing setelah berpisah dari pesantren.
Semua itu indah. Semua itu berharga. Namun kami berpikir, alangkah baiknya jika ruang yang dipenuhi kenangan itu juga menjadi ruang yang melahirkan gerakan nyata.
Bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi pesantren yang pernah menjadi tempat kita belajar, bertumbuh, dan ditempa menjadi pribadi yang lebih baik.
Pesantren ini bukan sekadar bangunan atau lembaga pendidikan. Di tempat inilah kita belajar tentang arti kesederhanaan, keikhlasan, persaudaraan, dan perjuangan.
Di tempat inilah banyak mimpi mulai dirajut. Karena itu, ketika pesantren menghadapi berbagai kebutuhan dan keterbatasan, rasanya tidak mungkin bagi kita untuk berpaling begitu saja.
Kita semua mengetahui bahwa masih banyak hal yang membutuhkan perhatian dan dukungan. Ada fasilitas yang perlu diperbaiki, kebutuhan santri yang harus dipenuhi, serta berbagai program yang memerlukan biaya agar tetap berjalan.
Beban itu tentu tidak mudah jika hanya dipikul oleh segelintir orang. Namun ketika banyak tangan bergandengan, beban yang berat perlahan menjadi lebih ringan.
Yang membuat saya semakin terharu adalah kenyataan bahwa kepedulian tidak pernah diukur dari besar kecilnya nominal.
Ada yang memberi dalam jumlah besar, ada pula yang memberi sesuai kemampuan. Namun di hadapan niat baik, semua memiliki nilai yang sama mulianya. Sebab yang sesungguhnya diberikan bukan hanya uang, melainkan perhatian, kasih sayang, dan rasa memiliki terhadap pesantren yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Setiap donasi yang terkumpul seperti membawa pesan yang sama: “Kami masih ada. Kami masih peduli. Kami belum melupakan rumah yang pernah membesarkan kami.”
Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin terlihat kecil. Namun saya percaya, tidak ada kebaikan yang benar-benar kecil ketika dilakukan dengan ketulusan.
Setetes air mungkin tampak sederhana, tetapi jutaan tetes dapat menjadi sungai yang menghidupi banyak orang. Begitu pula dengan kepedulian para alumni.
Sedikit demi sedikit, langkah-langkah kecil itu akan menjadi kekuatan besar yang mampu menghadirkan perubahan.
Hari ini saya belajar bahwa persaudaraan sejati tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan gerbang pesantren. Ia tetap hidup dalam doa, dalam perhatian, dan dalam keinginan untuk saling membantu.
Kenangan masa lalu ternyata bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dapat menjadi jembatan menuju kebaikan yang terus mengalir.
Terima kasih kepada seluruh saudara-saudariku yang telah ikut ambil bagian.
Terima kasih atas setiap rupiah yang disisihkan, atas setiap doa yang dipanjatkan, dan atas setiap dukungan yang diberikan.
Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi pelita yang menerangi langkah pesantren, menguatkan para santri yang sedang menuntut ilmu, dan menjadi amal kebaikan yang terus mengalir manfaatnya.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan tentang apa yang berhasil kita berikan untuk orang lain. Dan kepedulian, sekecil apa pun, selalu menjadi tanda bahwa hati kita masih hidup untuk sesama.
Tabe’